Demo Hijau Dong!!

21 Mei, 2008

Dengan adanya rencana pemerintah untuk menaikkan BBM, maka demo pun mulai marak lagi terutama di ibukota Jakarta. Para pendemo ini ceritanya selalu menginginkan perubahan dari pemerintah, mengutarakan keinginan rakyat, dan lain-lain. Saya suka sebal juga kalau demo malah bikin macet. Tapi bukan itu saja ulah mereka yang katanya lebih memiliki pola pikir yang berbeda, maju, modern, dan bisa dibilang anak sekolahan karena banyak dari pendemo adalah mahasiswa.

Saya bukannya anti-demo. Demo adalah salah satu bentuk wujud demokrasi di Indonesia dimana rakyat memberikan suaranya kepada pemerintah.

Tapi coba perhatikan deh cara-cara demo. Ada yang memakai spanduk, selebaran, pamflet, stiker, sampai karton dan kayu yang ditulisi macam-macam dan yang paing parah membakar ban. Apalagi setelah demo selesai. Bukannya masalah selesai malah membuat masalah baru karena para pendemo dengan seenaknya membuang sampah sembarangan mulai dari bekas selebaran yang asal dibuang, kantong plastik bekas minum, botol air mineral, permen, dan lain-lain. Memang yang senang sih para pemulung, tetapi anak sekolahan yang katanya berilmu tinggi dan jago cuap-cuap malah tidak introspeksi diri untuk berubah dulu dari hal yang kecil, yaitu membuang sampah dengan benar. Katanya yang suka demo itu berarti aktif di kampus, kritis ke masalah-masalah negara, membela masyarakat, dan mungkin cita-citanya jadi politisi. Bagaimana politisi kita bisa pada bener kalau baru demo saja sudah asal buang sampah. Itu namanya bibit politisi yang tidak tahu aturan, tidak introspeksi diri dan tidak memberi contoh yang baik.

Emang budaya kita kalau lagi rame-rame akhirnya sudah tidak menerapkan adanya peraturan dan undang-undang. Dalam hati, siapa yang berani kalau lagi rame begini, jadi buang sampah pun cuek aja. Akhirnya, karena demo biasanya di jalan protokol (biar kelihatan) akhirnya jalan protokol kita setiap habis demo pasti benar-benar penuh sampah. Mungkin supaya efek demonya terus terlihat oleh masyarakat.

Apa gak bisa demo yang teratur dan bersih? Semua pasti harus dimulai dari pemimpin demonya juga. Kasih contoh yang baik. Buang sampah yang benar, jangan cuma kata-kata untuk pemerintah, tapi berikan juga wejangan kepada semua anggota demo supaya berdemo hijau.

Coba bayangkan. Berapa banyak kertas pamflet yang terbuang percuma begitu saja. Berapa banyak polusi yang dihasilkan oleh ban yang dibakar (yang ini memang keterlaluan)

Kalau anda masih kuliah dan mengetahui teman-teman yang mau demo, tolong dong ingatkan agar mereka berdemo hijau.

Ayo dong tunjukkan bahwa pendemo bukan hanya pintar cuap-cuap di mulut tetapi juga mampu melakukan perubahan untuk masa depan yang lebih baik. Jadilah contoh calon politisi yang tangguh dan dapat memimpin rakyat dengan baik dengan memberi contoh.

Entry Filed under: Berita Lingkungan, Manifesto Hijau. .

17 Comments Add your own

  • 1. bhq  |  21 Mei, 2008 at 3:19 am

    setuju !
    Sudah lama saya punya uneg-2 yang sama.
    Kenapa sih demo itu harus bentrok, bakar, dorong, rusak?

    Harusnya mahasiswa bisa membedakan dirinya ketika demo dengan demo2 non mahasiswa.

  • 2. Lina  |  21 Mei, 2008 at 7:34 am

    Setuju banget!!! Emang udah waktunya ada yang mengingatkan para “pendemo-yg-katanya-calon-pemimpin-dan-penerus-bangsa” untuk introspeksi diri dalam aksinya. Tidak heran kalau para pemimpin bangsa cuek aja ama yang namanya demo, toh kayak ‘maling-tereak-maling’ juga… Ayo.. let’s go green, even in demo!!

  • 3. Ngadimin.Org » Ciri&hellip  |  21 Mei, 2008 at 11:03 am

    [...] UPDATE 21 Mei 2008, berkaitan dengan bakar ban di jalan, sepertinya demo sekarang tidak termasuk demo hijau. [...]

  • 4. agung  |  21 Mei, 2008 at 2:58 pm

    yapp setuju banget dengan demo hijau.
    khususnya bagi kaum intelek yang tentunya berwawasan luas.

    malu kan ngaku mahasiswa, tapi bisanya cuman ngerusak fasilitas. kasian orang-orang yang udah bayar pajak… jadi sia sia karena dirusak dan di korupsi…

    saya dukung demo hijau

    hidup mahasiswa!!!

  • 5. enggar  |  21 Mei, 2008 at 5:35 pm

    Setuju. Slogan mulailah dari diri sendiri itu memang tepat.

  • 6. Doli Anggia Harahap  |  22 Mei, 2008 at 12:05 am

    mungkin sedikit terkait dengan postinganku yg terbaru bang..
    boleh dicoba singgah..

    ————————–

    Aku setuju sama isi tulisan di atas..
    ini menunjukkan kebanyakan mental rakyat kita masih terlalu labil

  • 7. bandung tanpa pohon  |  22 Mei, 2008 at 7:59 pm

    saya demo lewat blog ;) …klik aja bandungtanpapohon.blogspot.com

  • 8. Prabowo Murti  |  22 Mei, 2008 at 11:01 pm

    :) Saya setuju sekali Mas.

    Terkadang miris juga rasanya kalau melihat mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM, justru menghamburkan BBM. Saya pikir masih ada solusi lain, bidang lain, sisi lain di mana kita bisa berkontribusi. Misalnya dengan ajakan kepada masyarakat untuk menghemat energi dan memberikan cara dalam mengatur anggaran pembelian bahan bakar minyak.

    Toh kebijakan tentang kenaikan harga BBM sudah diumumkan… Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya..

    CMIIW

  • 9. tikno  |  23 Mei, 2008 at 11:53 am

    saya sangat setuju dengan konentar anda

  • 10. Sandro  |  23 Mei, 2008 at 4:10 pm

    Sedih memang……, tapi inilah INDONESIA….

  • 11. frida  |  27 Mei, 2008 at 1:32 pm

    Setuju!!!

    Saya yakin mayoritas mereka taunya konsumsi, konsumsi dan konsumsi, gak peduli dengan gerakan hijau. Jadilah menilai kenaikan ini dari satu sisi.
    Padahal, ini momen bagi kita utk berhemat toh?

  • 12. Lily sopian  |  28 Mei, 2008 at 1:15 pm

    Setuju banget!!!!!
    Memang miris sekali melihat keadaan Indonesia saat ini.
    Begitu banyak hal – hal memalukan yang terjadi belakangan ini.
    Dan tentunya yang paling menyedot perhatian sekarang adalah masalah Mahasiswa – mahasiswa ini. Katanya kaum intelektual, tapi tidak bersikap intelektual. Katanya orang yang berpendidikan, tapi seperti tidak pernah sekolah.
    Saya tidak meragukank kecintaan mereka terhadap bangsa ini.
    Tapi, saya sangat berharap sebelum para mahasiswa ini berteriak – teriak tentang suatu kebenaran mereka memahami dulu, slogan ini “mengkritk akan lebih mudah dibandingkan menjalaninya”.

  • 13. bintang ketjil  |  2 Juni, 2008 at 2:02 am

    sWeeetujUUUUU,,,,,

    saya juga sering sebel liat ulah2 para mahasiswa (yang ngakunya intelek itu) unjuk rasa tanpa ada esensi yang jelas,,,
    yang ada malah nambah2in masalah,,,
    malu maluin mahasiswa aja,,,,

    hmpf,,,,

    sepertinya harus dipikirkan kembali cara unjuk rasa yang lebih kreatif, berguna, ga ngerugiin masyarakat yang lain,,,

    semoga mereka yang diluar sana segera sadar,,,,

    HIDUP MAHASISWA!!!!!

  • 14. dphy  |  9 Juni, 2008 at 4:25 pm

    yah, sebenernya tuh pemrintah ndengerin ga sih..
    malah jangan2 mreka ga tau kalo rakyatnya pada demo..(?)

  • 15. Reza  |  8 Agustus, 2008 at 7:26 pm

    Semua hal didunia ini ada dampak positif dan negatifnya. jadi tinggal bagaimana kta melihat sebarapa besar dampaknya.
    sampah yang berserakan tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan rakyat..
    jadi itu adalah hal yang wajar…
    mau cari demo yang hijau, silakan habiskan waktu anda kalau didengar oleh pemerintah..

  • 16. Aku Ingin Hijau  |  8 Agustus, 2008 at 9:41 pm

    Dear Reza. Benar semua ada positif dan negatif. tetapi tidak berarti kalau kita demo hijau berarti tidak didengar oleh pemerintah. Apa anda bisa membenarkan demo yang merusak gedung, membakar ban, apalagi mobil? Sampah yang berserakan pun tanda bahwa pendemo itu tidak bertanggung jawab. kenapa panitia demo tidak menyediakan saja kantong sampah hitam untuk semua pendemonya? Apa itu terlalu mahal? Apa lebih mahal dari membuat spanduk yang lalu dibuang-buang? Papan styrofoam yang hanya dipakai sekali, asal bisa masuk TV? Saya mengerti kalau mau anda mau demo, tetapi saya tetap tidak setuju kalau anda mau membenarkan sampah yang anda buang.

  • 17. Diah  |  9 Januari, 2009 at 9:55 pm

    Waktu saya SD, waktu itu ada satu artikel dari majalah anak-anak (B**O, ada copyrightnya nih, hehe) bahwa demo-demo yang dilakukan para mahasiswa itu menghasilkan sampah yang menyusahkan para penyapu jalan. Juga ada informasi dari suatu stasiun TV swasta yang membahas hal yang sama. Dari saya masih SD, tahun 2002, hingga sekarang, 2009, hal itu tak pernah terubah. Bagaimana bisa?

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda



30 Mei 2009
Bandung Car Free Day
Lokasi: Jl. Ir. H. Juanda (Dago)

8-9-10 Juni 2009
GREEN ART 2009
UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Jawa Timur
Jl. Gentengali 85 Surabaya
KONTAK PERSON:
H. Winarno 031- 70070033, Ketua Umum
Luhur Kayungga 031- 72476645, Humas
Tauchid S 081 330 187 630,Sekretaris

18 Juni 2009
Green Living – Best Practice
Tema: event agar Anda dapat mendisain rumah dan kantor sendiri dengan konsep disain yang ramah lingkungan.
Speaker: WWF Indonesia
Lokasi: Gedung Jakarta Design Center Ruang Lotus Lt 6
Jl. Gatot Subroto Kav 53 Jakarta 10260
Biaya: Rp 200.000,- (Umum), Rp 100.000,- (Mahasiswa dengan mambawa kartu identitas)
Kontak: Sutan 0856 928 38 548, Alfonso Harrison 0813 1799 0505

c

Archives

Artikel Sebelumnya

Top Posts

Jejak Pendapat

Kampanye Hijau









Blogroll

Statistik Pengunjung

Statistik

Links

Halaman

Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Meta