Posts filed under ‘Belajar Hijau’
Pilih Banjir, Tunggu Jokowi, atau Bikin Lubang Biopori?
Disadur dari kompas.com
KOMPAS.com - Salah satu cara paling sederhana mencegah banjir di ibukota saat ini adalah membuat sumur resapan atau lubang biopori. Secara teoritis, sumur resapan tidak hanya mengurangi risiko banjir, namun juga menjaga cadangan air.
Sampai hari ini, banjir sudah merendam Jakarta selama tiga hari sejak Rabu (16/1/2013) lalu. Meskipun di beberapa titik ibukota kondisi banjir mulai surut, proses evakuasi masih berjalan.
Melalui pernyataannya pada Rabu (16/1/2013) lalu, Gubernur DKI Joko “Jokowi” Widodo mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan anggaran sebesar Rp 250 miliar khusus untuk memasang sumur resapan sebanyak 10 ribu buah. Namun, proses pemenuhan target tersebut terhambat penetapan APBD 2013.
Sebenarnya, sumur resapan dengan skala lebih kecil dapat dibangun sendiri oleh warga di tiap-tiap pekarangan rumahnya. Masuknya air hujan melalui peresapan ini akan menjaga cadangan air tanah. Dengan begitu, hujan tidak hanya “terbuang percuma” dan membuat genangan, namun memberikan keuntungan bagi kehidupan warga. (more…)
Belajar hijau untuk mengurangi dampak konsumsi barang
Buy, Use, Toss adalah buku yang cocok untuk grade 9-12 yang dikeluarkan oleh Facing the Future.org untuk program selama 2 minggu.
Tujuan dari buku ini adalah agar murid-murid dapat lebih kritis dan mengetahui lebih jauh konsekuensi dari konsumsi mereka seperti pembelian barang-barang, mulai dari pembuatannya hingga saat barang sudah tidak dipakai atau dibuang.
Ukuran download adalah 4.7 mb jadi cukup besar.
Copot Popok
Anak-anak bayi sekarang sudah tentu kebanyakan menggunakan popok. Tergantung keluarga masing-masing, ada yang memakai popok kain yang dapat di cuci kembali atau popok sekali pakai yang walaupun mudah dan nyaman tetapi mahal dan menghasilkan sampah yang cukup banyak. Sampah popok bukan saja sangat sulit terdaur ulang, tetapi juga menjadi sampah yang sangat bau dan mencemari lingkungan.
Oleh karena itu para orang tua harus menstrategikan cara copot popok sesegera mungkin. Sebenarnya copot popok ini bukan saja merupakan skill yang penting untuk anak tersebut, tetapi juga akan terasa nyaman untuk anak itu. Selain itu tentunya banyak pengeluaran yang dapat di hemat dari tidak membeli popok lagi.
Tetapi cara copot popok itu berbeda dari anak yang satu dengan yang lain. Biasanya anak sudah dapat mengatur otot untuk buang air kecil di umur 18 bulan, walaupun tidak selalu begitu. Tidak mudah untuk memaksakan dan tergantung kesiapan anak tersebut.
Beberapa tips untuk copot popok:
- Anak anda sudah dapat mengerti arti dari buang air kecil dan besar serta bedanya
- Mulai mengenal kamar kecil di rumah anda
- Lebih baik ada kesiapan fisik seperti bisa buka celana sendiri dan berjalan ke kamar kecil
- Bisa diberi insentif seperti permen dalam tahap-tahap awal
Apakah anda juga memiliki pengalaman dengan tips-tips lainnya?
Yang pasti, anda sebagai orang tua harus sabar dalam hal ini dan tidak memaksakan. Tetapi bila anda berhasil, maka saya yakin bahwa anda akan sangat bangga terhadap anak anda dan diri anda juga. Dengan hal ini, tentu saja anda akan membantu mengurangi sampah-sampah popok yang sangat mencemari lingkungan. Selamat mencoba.
Budaya Aji Mumpung
Saat anda mengambil saus sambal di restoran siap saji sebanyak-banyaknya, saat anda buang-buang air saat numpang di rumah saudara, atau saat anda tidak mematikan lampu hotel karena merasa bayar, semua itu adalah budaya aji mumpung.
Budaya aji mumpung ini dapat di lihat dimana-mana dan kalau kita perhatikan, kita pun melakukan hal-hal itu. Budaya aji mumpung itu sangat menguras energi dan sumber daya yang seharusnya dapat di hemat. Contohnya adalah bila anda mengambil saus sambal terlalu banyak di restoran siap saji maka pasti saus yang tidak termakan dibuang begitu saja. Atau saat anda keluar dari kamar hotel dan tidak mematikan lampu dan AC dengan alasan termasuk dalam tarif penginapan, maka anda pun membuang energi percuma yang seharusnya dapat di hemat.
Coba saat anda pergi ke pesta dan ada banyak makanan, coba sana, coba sini, yang tidak habis ditinggalkan begitu saja. Berapa banyak bahan baku makanan yang terbuang, dimana masih banyak orang yang membutuhkan makanan. Rasanya miris melihatnya. (more…)
Carbon Footprint Calculator
Untuk anda yang ingin mengetahui berapa banyak ton carbon yang anda hasilkan dalam 1 tahun, maka kalkulator karbon ini dapat secara gambaran global memberikan hasil walaupun tidak akurat sekali.
Kalkulator ini juga tersedia dalam bahasa Indonesia sehingga tidak perlu repot menterjemahkan sendiri. Selain itu anda akan melihat perbandingan jumlah ton CO2 yang dihasilkan dengan berapa batang pohon yang harus ditanam dan dirawat serta emisi rata-rata negara lain.
Cobain deh. Klik disini saja.
Cuci tangan hemat air dan bersih
Tanggal 15 Oktober 2009 yang lalu adalah Hari Cuci Tangan Sedunia yang diadakan dalam rangka membuat kebiasaan bersih terutama untuk anak-anak. Mencuci tangan adalah kebiasaan yang sangat baik dan cara yang paling efektif serta murah untuk mencegah penyakit seperti diare, penyakit menular dll.
Slogan yang dipakai untuk Global Handwashing Day ini pun adalah “Clean Hands Save Lives” sehingga diharapkan anak-anak akan belajar cara mencuci tangan yang baik oleh organisasi dan perusahaan yang ikut berpartisipasi dalam acara global ini.
Apa hubungannya dengan blog Aku Ingin Hijau? Bersih belum tentu hemat air, tetapi menurut saya hemat air bisa lebih bersih. Maksud dari pernyataan ini adalah, kalau kita mencuci tangan dengan air kran yang mengalir, maka kita akan mencuci tangan lebih cepat-cepat karena merasa membuang air dan diburu-buru oleh suara air tersebut. Tetapi kalau pada saat mencuci tangan kita mematikan keran air dahulu saat kita membasuh dengan sabun maka kita dapat membasuh tangan kita dengan sabun dengan lebih baik, teliti dan lama sehingga pastinya akan lebih sehat. Selain sehat, juga hemat air.
Jadi, bukan hanya cuci tangan saja untuk bersih, tetapi matikan keran air dahulu saat membasuh dengan sabun sehingga kita dapat mencuci tangan dengan lebih lama dan tuntas. Jangan lupa untuk tidak membuka kran air terlalu besar juga sehingga akan lebih hemat.
Ajarkan kebiasaan ini ke anak-anak anda.
Air Hujan dan Kita
Saat hujan dicaci-maki, saat kering di cari-cari. Itulah air hujan. Air hujan pada hakekatnya merupakan berkat dari “langit” yang dimampukan dengan adanya siklus air di Bumi kita ini. Memang air hujan adalah bagian dari siklus air yang pernah saya tampilkan pada artikel Fakta Air di Bumi.
Air hujan memang akan terus menerus ada karena siklus tersebut. Tetapi dengan adanya pergantian musim, maka hujan pun akan diganti dengan musim kemarau. Air hujan yang jatuh di kebanyakan tempat di kota-kota besar pun tidak terserap ke dalam tanah, malah terbuang ke got yang akhirnya meluap dan menyebabkan banjir.
Buku “Air Hujan dan Kita” ini memberi petunjuk bagaimana memperoleh dan menggunakan air hujan bagi kebutuhan sendiri atau kelompok. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar dan desain-desain menarik yang sangat mudah dan murah dalam implementasinya. (more…)
Fakta Air di Bumi. Sayangi penggunaannya.
Masalah air terus menerus menjadi problematika yang sulit dipecahkan. Penghematan air pun sulit dilakukan karena merasa bahwa air adalah sesuatu yang terus menerus ada dan tidak akan habis. Faktanya adalah jumlah total air yang ada di Bumi saat ini relatif sama dengan saat Bumi ini tercipta. Yang berubah ada bentuk dari air tersebut dalam siklus air yang berlangsung terus menerus. Jadi air yang dipakai mandi oleh Pangeran Diponegoro bisa jadi sama dengan air yang sedang anda pakai untuk minum.
Tetapi dari semua air tersebut, hanya 3% saja yang merupakan air tawar dimana 97% lagi adalah air asin. dari 3% ini juga terbagi-bagi lagi dengan es, air tanah dan air permukaan seperti gambar di bawah ini. (more…)


















Komentar Terbaru