Archive for 29 Mei, 2007
Beberapa Solusi Sampah Plastik Kita
Itu adalah salah satu slogan dari tren yang ada di seluruh dunia. Kita bisa mulai mengurangi sampah plastik kita dengan bukan tidak memakainya tetapi menggantikannya.
- Jangan pakai kantong plastik untuk belanja. Bawa sendiri tas belanjan yang dapat selalu dipergunakan lagi.
- Jangan langsung buang botol plastik sesudah minum. Isi air lagi dan pakai kembali walaupun jangan terlalu banyak isi ulang. Kira-kira 5 kali pakai masih oke. Untuk yang biasa minum di mobil, siapkan selalu botol yang sudah diisi penuh agar tidak usah beli lagi.
- Lebih baik lagi beli botol minum jadi bisa selalu diisi ulang dan tidak usah beli botol air mineral lagi.
- Di negara barat banyak cafe seperti Starbucks sudah mulai membolehkan customer membawa sendiri cangkir atau lebih baik thermos untuk diisi kopi. Kantong plastik masih bisa digunakan lagi. Tapi kalau gelas plastik hanya bisa sekali saja. (lagi…)
Kurangi Sampah Plastik Yuk!
Fakta Sampah Plastik:
- Diperkirakan 6.4 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia (disadur dari data National Academy of Sciences)
- Perkiraan lainnya juga mengatakan sebanyak 8 juta potong sampah masuk ke laut setiap harinya.
- Lebih dari 80% sampah plastik di seluruh dunia langsung dibuang ke tempat sampah yang akhirnya ke laut tanpa di daur ulang
- 90% dari seluruh sampah di laut adalah plastik
- Lebih dari 1 juta binatang laut mati akibat plastik setiap tahunnya
- Setiap tahun rata-rata orang menghabiskan 700 kantong plastik
- Supermarket di seluruh dunia memberikan lebih dari 17 milyar kantong plastik setiap tahunnya.
- Setiap tahun diperlukan 12 juta barel minyak serta 14 juta pohon untuk membuat semua plastik
- Sampah plastik terbanyak adalah botol dan pembungkus plastik sebanyak 56% dimana 3/4 berasal dari perumahan
- Orang Amerika menggunakan 2.5 juta botol plastik per jam!
Perbandingan waktu daur ulang:
Kaleng Aluminium ………… 300 tahun
Botol Plastik ……… > 100 tahun
Popok Bayi ………… 100 tahun
Baterei ………… 100 tahun
Cangkir plastik …………… 50 – 80 tahun
Puntung rokok …………… 10 – 40 tahun
Kantong Plastik ………… 10 – 20 tahun
Minyak oli …………….. 10 tahun
Kulit Jeruk ………… 6 bulan
Kertas ………… 2 – 5 bulan
Solusinya? Nanti di artikel blog berikutnya.
Pakai Pengering Elektrik Atau Tissue?
Siapa yang tidak hobi memakai tissue? Di Indonesia semua restoran sampai warung harus menyiapkan tissue, kalau tidak kita bisa pikir servisnya payah banget. Padahal kalau kita di Singapore atau Malaysia, disana resto dan warung kecil pun tidak menyediakan. Disini kalau makan di warung, sudah jelas banyak orang setelah pakai tissue langsung buang ke lantai. Kalau kita ke toilet di restoran atau hotel, kita juga sering lihat tempat sampah yang penuh dengan tissue yang mungkin hanya dipakai sebentar untuk mengelap tangan. Kalaupun ada pilihan antara pengering elektrik atau tissue, kita akan lebih memilih tissue.
Untuk anda yang memiliki restoran, hotel atau kantor, pilihan untuk menggunakan pengering elektrik dibandingkan tissue merupakan hal ekonomis yang tidak dapat dipungkiri. Apalagi pengering elektrik itu sebenarnya sangat sederhana karena hanya terdiri dari koil, fan dan switch elektrik, tidak memerlukan banyak perawatan, dan bisa tahan sampai 7 tahun. Jadi setelah pemasangan, pengering elektrik sudah tidak memerlukan pengeluaran lainnya selain listrik yang digunakan.
Kalau 1 orang menggunakan rata-rata 20 detik waktu pengering dengan konsumsi rata-rata 2 KW maka:
(20 detik/3600 detik) x 2KW = 0.01 KwH per orang
Dengan asumsi harga per KwH 1000 rupiah (ini harga di atas rata-rata tarif bisnis) maka0.01 KwH x 1000 rupiah = 10 rupiah per orang per pemakaian 20 detik
Kalau kita bandingkan dengan pemakaian tissue gulung (paper towel). Kita dapat asumsikan rata-rata penggunaan tissue sebanyak 2 lembar per pemakaian. Harga rata-rata 1 gulung paper towel dengan total 150 lembar rata-rata Rp. 10,000-15,000. Jadi harga per lembar itu adalah kira-kira 60 – 100 rupiah. Kalau 1 orang memakai 2 lembar maka harga untuk sekali pemakaian adalah minimal 120 – 200 rupiah.
Lebih dari itu, kalau menggunakan tissue, proses pembuatannya pun sudah sangat boros energi. Mulai dari pembuatan bubur kertas sampai dipanaskan serta di packing. Setelah itu, setiap tempat yang kehabisan tissue harus mengeluarkan energi untuk mendapatkan tissue yang baru yang diambil atau diantar terus menerus. Setelah itu, semua sampah pun harus diantar ke tempat pembuangan sampah terakhir (TPA). Efek supply chain dan logistik yang disebabkan oleh tissue menjadi sangat panjang. Ongkos adalah salah satu faktor tetapi efeknya ke lingkungan kita sangat besar.
















Komentar Terbaru