Posts filed under ‘Fakta Lingkungan’
Olahraga sehat yang ramah lingkungan
Olahraga sedang tren. Bisa dibilang keren kalau fitness di mal atau hotel-hotel berbintang. Tapi semakin lama kita semakin terbiasa untuk pergi ke satu tempat, muter-muter cari tempat parkir dengan kecepatan rendah (yang ternyata terbukti sangat boros) lalu lari di mesin treadmill yang menggunakan mesin 2 tenaga kuda. Lingkungan dan kehidupan sosial membuat kita selalu mengkonsumsi terus menerus.
Saya bukan menentang olahraga. Tetapi memang olahraga itu mengkonsumsi energi. Kalau kita ambil contoh mesin treadmill lagi, konsumsi mesin treadmill sebesar 2 tenaga kuda itu sama dengan 1500 Watt listrik (1 Tenaga kuda = 750 Watt). (lebih…)
Biofuel dalam kartun

Jangan cuma lihat hasilnya saja, lihat proses penanaman dan produksinya juga. Ethanol bukan hanya dari jagung, kebetulan Amerika memiliki lahan jagung yang berkelebihan, walau sekarang antara kebutuhan makanan dan ethanol sudah mulai bersaing. Di Indonesia ethanol dibuat dengan bahan dasar tebu dan singkong. Ini pun merupakan bahan makanan kita sehari-hari. Padahal bila dibandingkan dengan pemakaian BBM, persentasenya juga sangat kecil, tapi malah menyulitkan masyarakat dengan naiknya harga.
Sekarang hampir setiap hari koran memberi berita kenaikan harga minyak goreng, kenaikan harga CPO, ingin adanya kenaikan pajak CPO untuk export dan sebagainya. Ini adalah hasil dari tren masyarakat dan politisi yang ingin “kelihatan” cinta lingkungan padahal malah merusak (lihat artikel blog saya sebelumnya). Padahal minyak goreng itu adalah kebutuhan sehari-hari. Apa kita mau kalau makan tempe atau tahu goreng yang jadi mahal? Atau karena tingginya harga minyak goreng, maka para pedagang pun malah memakai minyak goreng berkali-kali melebihi biasanya, atau membeli minyak bekas yang sudah sangat tidak sehat?
Lebih baik kita mulai menggunakan alternatif lain untuk transportasi. Jalan kaki, naik sepeda, naik busway, nebeng teman, nebeng tetangga. Jangan manja memakai kendaraan ke tempat-tempat yang dekat.
Lihat artikel lain yang berhubungan:
– Biodiesel: Solusi atau Problem
– Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Biodiesel
Fakta Energi Indonesia! Jangan kira kita begitu kaya akan sumber daya.
Indonesia sering disebut sebagai negara kaya akan sumber daya. Memang pada saat ini untuk export batubara dunia saja kita telah melewati Australia sebagai exporter batubara no. 1 di dunia. Lumayan, kadang kita jarang mendapat juara. Tapi ini karena 75% dari produksi dalam negeri kita export. Kita adalah produsen batubara no.4 setelah China, India dan Afrika Selatan. Walaupun total cadangan batubara kita sekarang kira-kira 5 milyar ton, itu sebenarnya hanya 3.1% dari total cadangan dunia. Kalau kita bilang kita adaah juara, kita memang juara dibodohi oleh orang luar negeri. Mereka menyimpan cadangan mereka selama mungkin sampai cadangan kita habis dan harus mau tidak mau membeli dari mereka. Itu sama saja dengan dijajah kembali!!
Bagaimana kita bisa dijajah? kalau kita lihat, 87% pembangkit tenaga kita berasal dari pembangkit yang menggunakan minyak, gas dan batu bara. Hanya 10.5% dari tenaga air dan 2.5% dari geothermal.
Padahal, cadangan minyak kita dibandingkan cadangan dunia hanya 0.6%, cadangan gas hanya 1.6% dan again, cadangan batubara hanya 3.1%.
Kalau hal ini terus terjadi, yaitu ketergantungan dengan minyak, gas dan batubara, ke masa mendatang, maka suatu hari kita akan benar-benar kehabisan sumber daya dan harus membeli semua dari luar negeri. Benar-benar penjajahan secara halus yang sedang dilakukan.
Jadi kita sebenarnya kaya sumber daya atau tidak? Tentu saja kaya.
Sumber daya panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai 20,000 MW atau setara dengan 40% dari total geothermal dunia. Kita baru mendayagunakan kira-kira 5% saja dari total potensinya. Kemampuan sumber daya air kita untuk membuat PLTA atau PLTM (pembangkit listrik tenaga mini-hydro) mencapai 75,000 MW. Selanjutnya, sumber daya matahari kita pun cukup baik dengan rata-rata 4.8 kWh/m2.
Bila kita bandingkan dengan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar minyak, maka untuk setiap 1MW yang dihasilkan oleh pembangkit dengan tenaga terbarukan dapat menghemat 10 milyar rupiah pembelian BBM.
Inilah faktanya. Apakah kita akan terus menjual hasil alam kita dan mengorbankan masa depan anak cucu kita? Atau kita juga dapat mulai menghemat dan mencari alternatif untuk kebutuhan energi kita.
Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Bio-diesel
Saya telah menulis sebelumnya dengan judul Bio-diesel: solusi atau problem bahwa dengan adanya perluasan perkebunan kepala sawit karena kebutuhan bio-diesel akan menjadi problem lanjutan karena adanya masalah-masalah baru seperti naiknya harga makanan, dll.
Sekarang ada masalah baru, yaitu perluasan perkebunan tebu, singkong dan jagung untuk membuat ethanol. Baru-baru ini Indonesia juga baru saja membuat perjanjian dengan Brazil yang akan membantu Indonesia mengembangkan industri tebu untuk Ethanol. Ethanol telah dibuktikan bahwa effisiensi energi Ethanol walaupun baik untuk pemakaiannya, sangat tidak effisien dalam produksinya, seperti penggunaan lahan, pupuk, traktor, manusia, dll.
Indonesia masih sangat bergantung pada import untuk Jagung yang kebanyakan dipakai untuk pembuatan pakan ternak dalam jumlah besar. Di Amerika sendiri, peternak disana sudah merasakan akibat dari tingginya harga jagung dengan jatuhnya produksi daging sapi, babi dan ayam. Petani rebutan dengan industri Ethanol untuk supply jagung. Inflasi daging di Amerika yang biasanya hanya 2 persen naik menjadi 3.5 persen. Meksiko sedang merasakan inflasi harga Tortila, yang merupakan makanan sehari-hari disana akibat tingginya harga jagung. Barang lain yang sama pentingnya adalah kedelai, dimana Brazil telah sukses membuat Ethanol dari kedelai untuk penggunaan di mobil. IMF mengatakan bahwa inflasi makanan naik 10 persen di seluruh dunia di tahun 2006 karena naiknya harga jagung, gandum dan kedelai. Itu semua adalah komoditi yang kita makan sehari-hari dan sulit untuk diproduksi di dalam negeri. Gandum yang kita impor dari Australia dan Amerika adalah bahan dasar untuk Indomie dan mie lainnya. Kedelai yang kita impor dari berbagai belahan dunia adalah bahan dasar tahu, tempe hingga oncom. Apakah kita mau menjadi kelaparan karena negara lain berlomba untuk membuat ethanol dari bahan tersebut?
Bila hal ini terjadi di Indonesia, kita akan mendapatkan krisis makanan yang cukup menakutkan karena ayam merupakan sumber protein utama untuk rakyat yang cukup terjangkau. Bila harga jagung impor naik, maka harga pakan akan naik, menaikkan harga ayam potong dan telur. Belum lagi barang-barang komoditi lainnya seperti gula yang juga akan naik akibat produksinya berebut dengan produsen ethanol.
Kita harus memiliki solusi untuk dalam negeri kita. Kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor seperti gandum dan kedelai yang sulit untuk diproduksi lokal. Kita harus mengembangkan komoditi lokal yang dapat menggantikan seperti ketela/singkong, dll. Hal ini adalah masalah nasional yang harus kita pikirkan bersama karena bila kita terlambat, maka musibah tidak dapat dicegah. Bila Amerika ingin mengurangi ketergantungan minyak dari Timur Tengah, maka kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor.
Biodiesel: Solusi atau Problem?

Pemerintah sedang gembar-gembor untuk memakai biodiesel dimana diharapkan dengan solusi ini maka penggunaan solar dapat dikurangi karena adanya campuran dengan solar yang merupakan hasil proses dari minyak kepala sawit, jagung, kedelai, jarak, tebu, singkong dll.
Manusia secara bergenerasi telah bercocok tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sekarang pun kita masih dapat melihat adanya kekurangan pangan dari negara kita. Kita masih belum bisa berswasembada pangan. Dengan adanya pertumbuhan dari kedua pihak antara populasi manusia dan mobil, kalau kita akan menggunakan bahan makanan yang kira perlukan itu untuk menjadi energi, apakah kita ingin memberi makan untuk orang atau mobil?
Tidak akan ada lahan, air ataupun tanah produktif yang cukup untuk dapat menggantikan seluruh kebutuhan energi kita. Produksi dari biodiesel itu sendiri pun menggunakan banyak sekali lahan dan energi. Produksi lahan tanaman seperti kelapa sawit atau jarak akan memerlukan pupuk yang dibuat dari hasil gas alam, pestisida yang juga merupakan turunan dari minyak, input dari energi lainnya seperti bahan bakar untuk traktor, truk pengangkut, dan pabrik penyulingannya. Selain itu, lahan tersebut juga akan memerlukan air dan harus mengurangi daya kesuburan tanah.
Bila kita lihat energi yang digunakan, maka biodiesel akan memakai energi yang lebih banyak dalam tahap produksinya dibandingkan dengan minyak bumi biasa, dari sumur explorasi sampai dipakai di mobil.
Dengan adanya kompetisi antara kebutuhan makan manusia dan energi, maka dengan menipisnya supply dan tingginya demand akan menaikkan harga komoditi tersebut sehingga pada akhir dari rantai tersebut maka produk akhir yang dijual kepada pelanggan pun akan lebih mahal. Contohnya, bila harga minyak kelapa sawit naik, karena minyak kelapa sawit adalah bahan dasar untuk pembuatan dari es krim, biskuit, mentega, minyak goreng hingga sabun dan shampoo, maka dapat dibayangkan konsekuensi naiknya harga CPO kepada seluruh inflasi dan ekonomi kita.
Para pengusaha pun dengan adanya kenaikan harga akan menjadi insentif mereka untuk menanam lebih banyak lagi. Dan bila hutan heterogen kita yang penuh dengan tanaman berguna serta binatang yang bergantung pada ekosistem tersebut, akan musnah dengan adanya hutan homogen dari perkebunan besar itu. Akhirnya adalah musnahnya spesies tanaman dan binatang yang penting untuk keseimbangan alam kita.
Solusi yang paling baik tetap untuk mencari solusi terbaik energi alternatif yang terbarukan dari air/ombak, angin dan sinar matahari.

















Komentar Terbaru