Posts filed under ‘Lingkungan Rumah’
The New Green 5R
5R ini disadur dari artikel “Ten Tips for a Zero-Waste Household”
- Refuse: tolak barang yang tidak dibutuhkan seperti brosur-brosur dan barang-barang marketing gratisan lainnya
- Reduce: rapikan rumah anda dan sumbangkan barang yang sudah tidak anda pakai, jangan disimpan di dalam gudang terus. Barang anda bisa menjadi emas bagi orang lain yang membutuhkannya. Selain itu, selalu gunakan daftar belanja sehingga anda tidak membeli barang yang tidak anda butuhkan.
- Reuse: ganti barang sekali pakai dengan yang bisa dipakai berulang-kali seperti tissue diganti sapu tangan, popok kain, yang selain hijau juga hemat. Pakai juga kantong/tas belanja agar tidak menggunakan kantong plastik kresek.
- Recycle: cari tahu tempat-tempat daur ulang yang ada, dan kalau anda menemukannya, share dengan dengan teman-teman lain. Selain itu, sebisa mungkin membeli barang secondhand yang seringkali masih dengan kondisi baik. Hindari membeli barang berbahan dasar plastik karena plastik akhirnya akan terbuang dan memenuhi tempat pembuangan sampah serta laut
- Rot: coba ikutan membuat kompos dari sisa makanan anda, jangan lupa beli bibit tanaman agar alhasil anda bisa menghasilkan sendiri bahan makanan dari sisa makan anda. Kalau ada sudah coba makan dari tanaman sendiri, masak apa pun rasanya mak nyus dan bangga.
Quote of the day – Go Organic
“If you do just one thing — make one conscious choice — that can change the world, go organic…. No other single choice you can make to improve the health of your family and the planet will have greater positive repercussions for our future.”
– Maria Rodale, the CEO of the Rodale Inc. publishing empire (Mens Health, Prevention, Runners World) and author of “Organic Manifesto: How Organic Food Can Heal Our Planet, Feed the World and Keep Us Safe” (Rodale Books).“There’s so many benefits that come from that one choice,” Maria explains. “You’ve removed a bajillion pounds of dangerous, synthetic, disease-causing environment-destroying chemicals from the soil, the water our bodies. We would all immediately be healthier. Our children would be healthier.”
Reference: organic consumers association (http://www.organicconsumers.org/articles/article_23944.cfm)
Dunia tanpa nyamuk? Apa ada yang kehilangan?
Beberapa minggu ini nyamuk terasa semakin banyak. Hal ini dirasakan orang dengan mengirim tweet hingga dibahas di radio dimana semakin banyak orang merasakan nyamuk yang semakin banyak di rumah atau kantor.
Yang ditakutkan adalah bila nyamuk tersebut menjadi sumber dari berbagai penyakit termasuk demam berdarah dan malaria yang walaupun ada obatnya, bisa menjadi pembunuh dan kalau masuk rumah sakit pun perlu biaya kesehatan yang tidak sedikit. Malaria menginfeksi 247 juta orang per tahun dan membunuh 1 juta orang per tahun, selain juga menyebarkan penyakit lainnya.
Dalam tulisannya di majalah Nature, Janet Fang menjelaskan bahwa dunia tanpa nyamuk tidak akan merugikan. Memang dijelaskan juga bahwa nyamuk adalah makanan untuk banyak spesies lainnya dan juga penting sebagai pembantu pengembangbiak bunga pohon (polinator seperti lalat dan lebah). Tetapi kerugian biaya kesehatan bagi manusia juga sangat tinggi dan mengganggu. Bayangkan bila sedang seru nonton bola di TV, tetapi harus kejar-kejaran dengan nyamuk pakai raket nyamuk, sudah tidak kena, ada gol tidak lihat. (lebih…)
Harta karun di lemari baju anda
Dulu sudah ada artikel Bersih-bersih lemari baju, dimana pasti ada saja baju-baju yang jarang di pakai, masih bagus, sudah kekecilan, dan masih layak untuk diberikan kepada orang lain seperti saudara atau sebagai sumbangan.
Kadang kita mau mudik pun suka membelikan baju-baju baru untuk sanak keluarga. Tidak ada salahnya kalau anda juga membawa baju-baju bekas yang masih layak tersebut sebagai hadiah untuk keluarga anda. Membawa baju bekas bukan berarti mereka yang kerja merantau tidak sukses karena tidak mampu membawa baju baru.
Tetapi hal ini tentunya akan membantu melestarikan lingkungan kita karena kita berarti mengurangi konsumsi pakaian dan menggunakan kembali barang yang sudah jarang kita pakai, tetapi akan bermanfaat untuk orang lain.
Kalaupun anda tidak mau memberikan kepada sanak saudara, tentunya masih banyak sekali orang yang membutuhkan pakaian. Sumbangkan pakaian anda ke panti-panti sosial. Baju yang menurut anda kurang layak dapat menjadi harta bagi orang lain. Inilah waktunya untuk berbagi “harga karun” di lemari anda.
10 Langkah Praktis Menolak Plastik
Disadur dari National Geographic Indonesia
Dewi Motik, Makan Sagu pun Kenyang
Disadur dari sinartani.com
Menurut wanita yang suka sagu ini banyak wanita di daerah yang kreativ dan inovatif. Sayang suara mereka tak terdengar. Dari kecil saya sudah dibiasakan oleh ibu saya memakan sagu Ambon. Sagu Ambon sudah menjadi kesukaan saya untuk menggantikan nasi, perut saya kenyang juga lho, ujar Dewi istri dari Pramono Soekasno. Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Dewi Motik Pramono, Msi. wanita yang memiliki segudang aktifitas ini menghimbau masyarakat, agar setiap hari Senin mulai mencoba menganeka-ragamkan pangan di luar beras seperti sagu, jagung, ubi-ubian atau aneka pangan lainnya. Saya di kantor mulai membiasakan meniadakan nasi untuk hari Senin, agar lingkungan di kantor mulai bisa menganekaragamkan konsumsi panganannya, imbuh wanita kelahiran Jakarta 10 Mei 1949 ini. (lebih…)
Milis Popok Kain
Melihat koran Kompas hari ini tgl 31 Juli 2011 mengenai “Pakai Popok Kain Yuk!” yang mengulas kegiatan dari Milis Popok Kain membuat saya senang sekali karena sejak saya membuat artikel “Popok Kain atau Popok Sekali Pakai” pada bulan Februari 2008, sudah begitu banyak antusiasme dari ibu-ibu muda yang selain ingin menghemat pengeluaran biaya popok juga bisa ikut melestarikan lingkungan.
Dari hitung-hitungan yang saya sadur dari artikel ini, maka bila dalam 1 tahun perlu biaya untuk popok sekali pakai bisa sebesar Rp. 2.400.000,–, maka walaupun biaya awal untuk 10 buah popok kain yang bisa dipakai berulang-ulang dengan masa pakai lebih dari 1 tahun adalah Rp. 700.000,– terkesan mahal, tetap akan jauh lebih murah untuk jangka panjang. (lebih…)
17 juta barel minyak untuk produksi botol air dalam kemasan plastik?
Grafik informasi selanjutnya juga memiliki fakta yang menarik menurut saya dimana untuk memproduksi botol air dalam kemasan itu membutuhkan hingga 17 juta barel minyak yang bisa digunakan untuk bahan bakar 1 juta mobil selama 1 tahun.
Grafik informasi ini memiliki daftar referensi di bagian bawah bila anda tertarik untuk menelusuri kembali data-data ini.
Tetapi tetap harus diingat bahwa data ini di representasikan bukan karena kampanye anti botol air dalam kemasan plastik, tetapi sebagai alat bantu untuk mempermudah visualisasi data sehingga dapat menggugah orang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik terutama untuk lingkungan.

















Komentar Terbaru