Pilih Banjir, Tunggu Jokowi, atau Bikin Lubang Biopori?

18 Januari, 2013 at 16:58 6 komentar

biopori-620X310-2biopori-620X310

Disadur dari kompas.com

KOMPAS.com – Salah satu cara paling sederhana mencegah banjir di ibukota saat ini adalah membuat sumur resapan atau lubang biopori. Secara teoritis, sumur resapan tidak hanya mengurangi risiko banjir, namun juga menjaga cadangan air.

Sampai hari ini, banjir sudah merendam Jakarta selama tiga hari sejak Rabu (16/1/2013) lalu. Meskipun di beberapa titik ibukota kondisi banjir mulai surut, proses evakuasi masih berjalan.

Melalui pernyataannya pada Rabu (16/1/2013) lalu, Gubernur DKI Joko “Jokowi” Widodo mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan anggaran sebesar Rp 250 miliar khusus untuk memasang sumur resapan sebanyak 10 ribu buah. Namun, proses pemenuhan target tersebut terhambat penetapan APBD 2013.

Sebenarnya, sumur resapan dengan skala lebih kecil dapat dibangun sendiri oleh warga di tiap-tiap pekarangan rumahnya. Masuknya air hujan melalui peresapan ini akan menjaga cadangan air tanah. Dengan begitu, hujan tidak hanya “terbuang percuma” dan membuat genangan, namun memberikan keuntungan bagi kehidupan warga.

Namun demikian, pembuatan sumur resapan atau biopori memiliki standar tertentu, tidak bisa sembarangan. Hal tersebut terdaftar dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2459-2002 yang merupakan revisi dari standar sebelumnya, SNI 06-2459-1991. Berdasarkan standar ini, syarat sumur resapan air hujan adalah memiliki penampang sumur resapan air hujan berbentuk segi empat atau lingkaran.

Ukuran minimum sisi penampang atau diameter 80 cm dan maksimum 120 cm. Adapun ukuran pipa masuk diameter 110 mm dan ukuran pipa pelimpah diameter 110 mm.

Syarat lain pembuatan lubang biopori adalah sumur tersebut berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil. Letak sumur resapan juga harus jauh dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak setidaknya satu meter dari pondasi bangunan.

Mengenai kedalamannya, penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau dua meter di bawah permukaan air tanah. Sementara kedalaman muka air tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.

Syarat lainnya, struktur tanah harus punya kemampuan menyerap air (permeabilitas tanah) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam. Dengan kata lain, genangan air setinggi 2 cm akan terserap habis hanya dalam waktu satu jam.

Untuk membuatnya, Anda dapat meminta bantuan tukang atau pembuat sumur gali berpengalaman. Namun, pastikan Anda ikut memperhatikan persyaratan teknis dan spesifikasi pembuatan sumur seperti berikut ini:

Penutup sumur

Untuk penutup sumur, Anda memiliki tiga pilihan. Pilihan pertama, gunakan pelat beton bertulang dengan tebal 10 cm untuk membuat penutup sumur. Komposisi penutup tersebut: pelat beton 10 cm dicampur dengan satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil.

Pilihan kedua, Anda dapat menggunakan pelat beton tidak bertulang dengan tebal 10 cm dengan komposisi yang sama. Namun, penutup ini berbentuk cubung dan tidak diberi beban di atasnya. Terakhir, Anda dapat gunakan ferocement setebal 10 cm.

Dinding sumur

Anda dapat menggunakan beton untuk dinding sumur. Untuk dinding bagian atasnya, Anda bisa memakai batu bata merah, batako, atau campuran dari satu bagian semen, empat bagian pasir, plester dan aci semen.

Pengisi sumur

Untuk pengisi sumur, Anda dapat memilih material berupa batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm, ijuk, serta arang. Susun pecahan-pecahan tersebut dengan komposisi berongga.

Saluran air hujan

Seperti syarat yang sudah dicantumkan dalam SNI, Anda dapat menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm, pipa beton berdiameter 200 mm, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 mm.

Setelah membuat sumur resapan, jangan lupa untuk memeriksa sumur resapan setiap menjelang musim hujan. Rasanya, dengan langkah-langkah sederhana tapi nyata ini, Anda bisa turut menyelamatkan kota Anda!

(Sumber: http://www.pu.go.id)

Iklan

Entry filed under: Belajar Hijau, Berita Lingkungan Lokal, Lingkungan Kerja, Lingkungan Rumah, Produk Hijau, TeknoHijau. Tags: .

Organic, Green and Healthy Expo Indonesia 2012 Lihat jalan berlubang di Jakarta? Tweet saja

6 Komentar Add your own

  • 1. vanduber  |  7 Februari, 2013 pukul 14:03

    ide bagus untuk menangani solusi banjir, tapi ide ini blm tenar untuk di gencarkan kepada masyarakat sepertinya. great article, regards.

    Toko Bunga Online

  • 2. rudi_234  |  25 Februari, 2013 pukul 17:06

    Di rumah orang tua saya, tidak memakai sumur resapan namun tidak ada air hujan dari atap yang dibuang ke sungai, semua diserap tanah. Ide nya adalah menggunakan pekarangan belakang rumah (kira-kira 3 x 2 m2)sebagai lahan penyerapan air dengan menggunakan konblok yang berlubang tengahnya. Agar air mudah diserap, pada lapisan paling bawah diberi lapisan batuan besar, lalu batuan sedang dan batuan kerikil rata-rata diameter 0,5 cm pada lapisan paling atas. Di tengah-tengah pekarangan tumbuh pohon rambutan, jadi selain sebagai resapan air hujan juga berfungsi sebagai sumber O2. Sudah hampir 10 tahun resapan ini dibuat dan tidak pernah overloading curah air yang meresap untuk ukuran atap 100-an m2.

  • 3. Aku Ingin Hijau  |  26 Februari, 2013 pukul 14:34

    @rudi_234, setuju sekali dengan konblok untuk menyerap air ke tanah. Untuk yang tidak terbayang, bisa baca artikel ini:
    https://akuinginhijau.org/2008/03/02/paving-berumput-alternatif-lapangan-parkir-yang-membantu-mengurangi-banjir-dan-polusi/

  • 4. jual alat berat  |  19 April, 2013 pukul 23:15

    konsep yang paling sederhana tapi paling bagus, tinggal kita mengedukasi masyarakat agar menerapkan konsep lubang bipori

  • 5. Verena Puspawardani  |  14 Agustus, 2013 pukul 16:37

    Tulisan soal bioporinya sendiri belom ada nih. Baru soal sumur resapan. Ayo dong tulis lebih detail soal biopori biar orang2 semangat bikin di rumah mumpung hujan belum setiap hari 🙂

  • 6. widjiume  |  7 Oktober, 2013 pukul 14:44

    ya pernah baca juga di forum sebelah, semoga cara ini lebih bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,276,493 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 335 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: