Posts filed under ‘Berita Lingkungan Lokal’

Lomba Hemat Energi Tingkat Nasional Tahun 2011

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral c.q. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservsi Energi dalam rangka mengapresiasi kegiatan di bidang konservasi energi akan mengadakan ajang kompetisi Lomba Gedung Hemat Energi dan Lomba Manajemen Energi di Gedung dan Industri Tahun 2011.

Lomba Hemat Energi bertujuan untuk:

  • Memberikan apresiasi kepada sektor industri dan bangunan atas keberhasilan yang telah dicapai untuk meningkatkan efisiensi energi
  • Meningkatkan kesadaran akan perlunya manajemen energi dan inovasi peningkatan efisiensi energi;

Menghasilkan model-model bangunan hemat energi di Indonesia yang dapat dijadikan contoh dan direplikasi selengkapnya download disini (lebih…)

1 Februari, 2011 at 23:41 3 komentar

Busway koridor 9 dan 10 akhirnya dimulai juga

Disadur dari web transjakarta.co.id

Pada tanggal 31 Desember 2010, BLU Transjakarta Busway mulai mengoperasikan Koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit) sepanjang 28,8 km dan Koridor 10 (Cililitan-Tanjung Priok), sepanjang 19,4 km. Untuk sementara jumlah bus yang melayani Koridor 9 & 10 sebanyak 35 single bus dan 25 articulated bus, dimana dalam waktu dekat akan ada tambahan 34 single bus. Bus Transjakarta beroperasi seperti biasa pukul 05.00-22.00 WIB.
Pelayanan bus di Koridor 9 akan dibagi 2 (dua) rute, yaitu:
1. Rute Pinang Ranti – Pluit. Waktu tempuh satu arah perjalanan, mencapai 1 jam 15 menit pada waktu tidak sibuk (offpeak) dan 2 jam pada waktu sibuk (peak hour). Headway (selang waktu kedatangan antar bus) pada waktu tidak sibuk sekitar 10-15 menit, pada waktu sibuk 15-20 menit.
2. Rute Cililitan – Grogol adalah rute pendek yang disediakan untuk mempercepat perputaran bus. Waktu tempuh satu arah perjalanan pada waktu tidak sibuk sekitar 50 menit, pada waktu sibuk 1 jam 30 menit, Headway pada waktu tidak sibuk sekitar 5-10 menit, pada waktu sibuk 10-15 menit.

Pelayanan bus di Koridor 10 rute Cililitan – Tanjung Priok dapat ditempuh dalam waktu 1 jam per satu arah perjalanan pada waktu tidak sibuk atau 1 jam 30 menit pada waktu sibuk. Headway pada waktu sibuk sekitar 10-15 menit dan pada waktu tidak sibuk 10 menit.

Rute di Koridor 9 melalui 29 halte sedangkan Koridor 10 melalui 22 halte. Halte-halte di Kor 9 dan 10 yang terintegrasi dengan koridor-koridor yang sebelumnya, adalah :

1. Halte Grogol 1, 2 transit kor 3, 8, 9
2. Halte Kuningan Timur & Kuningan Barat transit kor 6,9
3. Halte Benhil & Semanggi transit kor 1,9
4. Halte Cempaka Timur & Yos Sudarso Cempaka Mas transit kor 2,10
5. Halte Pemuda BPKP 1 & 2 transit kor 4,10
6. Halte Sutoyo BKN transit 7,9,10
7. Halte Cawang UKI transit 7,9,10
8. Halte Cawang BNN transit 7,9
9. Halte Pasar Kramat Jati transit 7,9

Ini merupakan salah satu pencapaian pemda Jakarta yang walaupun sudah sangat terlambat jadwal, tetapi mudah-mudahan dari mulainya koridor baru ini juga dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menjadi salah satu solusi kemacetan di ibukota.

3 Januari, 2011 at 21:37 4 komentar

Pemerintah Perlu Antisipasi Ledakan Penduduk

Disadur dari Okezone.com tgl 20 Oktober 2010

JAKARTA – Pemerintah diminta mengantisipasi terus meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 237,6 juta jiwa. Jika tidak ditangani secara serius, 15-30 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami krisis multidimensi, termasuk krisis pangan.

Perwakilan Ikatan Perstatistikan Indonesia (ISI) Amarsyah Tambunan mengatakan, jumlah penduduk yang besar jangan sampai menjadi beban negara, tapi menjadi modal pembangunan.

”Penduduk sebesar itu berimplikasi pada penyediaan pangan, energi, alokasi lahan permukiman, dan meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan,” kata Amarsyah dalam seminar nasional ”Dimensi Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan” di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, Indonesia menghadapi berbagai masalah kependudukan yang harus segera ditangani, seperti ketidakmerataan persebaran penduduk yang mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa.

”57,49 persen penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan luas lahannya hanya tujuh persen dari luas Indonesia,” kata dia.

Sementara, lanjut Amarsyah, luar Jawa khususnya di Indonesia Timur, jumlah penduduknya relatif jarang dan mendiami areal yang luas.

Dampak lanjutannya adalah terjadinya ketimpangan pertumbuhan antara kota dan desa. Hal itu terkait penyediaan infrastruktur yang juga tidak merata. ”Jumlah penduduk yang besar bukan sekadar jadi masalah ekonomi, tapi juga terkait masalah persoalan politik dan idiologis,” tegasnya.

Ketua ISI Khairil Anwar Notodiputro dalam presentasinya memaparkan, Indonesia perlu belajar dari hancurnya Uni Soviet dan Yugoslavia. ”Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat bisa mengakibatkan perpecahan bangsa,” kata dia.

Namun, menurutnya, jika pemerintah bisa mengatasi masalah kependudukan dengan baik dan mampu mengelola sumber daya manusia, maka jumlah penduduk yang banyak bisa menjadi potensi pembangunan.

Indonesia, katanya, harus mengadopsi cara mengatasi lonjakan penduduk dari China yang telah memiliki strategi jitu dalam mengatasi ledakan penduduk dan kerusakan lingkungan.

Jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta jiwa,tambah Khairil, jangan dianggap enteng karena laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan berubah menjadi bencana yang mengerikan. ”Jika tidak dipikirkan serius, kita akan mengalami kelaparan massal,” tegasnya.

Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Wynandin Imawan mengatakan, laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen sudah mengkhawatirkan. Angka ini naik dari periode 1990–2000 yang mencatat laju pertumbuhan 1,45 persen. ”Kita semula memperkirakan laju pertumbuhan bisa ditekan hampir satu persen,” katanya. (bernadette lilia nova)(Koran SI/Koran SI/ade)

21 Oktober, 2010 at 19:54 Tinggalkan komentar

Please”, Jangan Bergantung pada Nasi…

Disadur dari Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam momen peringatan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day 2010 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, pemerintah bersama sejumlah institusi terkait kembali mengangkat tema “Kemandirian Pangan untuk Memerangi Kelaparan”. Peringatan melalui seminar internasional yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan digelar di Hotel Borobudur, Kamis (21/10/2010).

Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Indroyono Soesilo mengatakan, pemerintah membagi strategi memerangi kelaparan dalam langkah-langkah jangka pendek serta jangka menengah dan panjang. Namun, menurut dia, pemerintah sangat berkonsentrasi dengan upaya diversifikasi pangan sebagai bagian dari langkah jangka panjang.

“Ini yang selalu kami ulang. Kita punya banyak sumber karbohidrat yang lain, jadi tolong jangan terlalu bergantung pada nasi. Kita punya ubi jalar, singkong, kalau dimakan dengan lauk yang lain, juga tinggi proteinnya,” ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Indroyono mengatakan, Indonesia memiliki setidaknya 77 bahan makanan lokal yang mengandung karbohidrat yang hampir sama dengan nasi sehingga bisa dijadikan substitusi. Oleh karena itu, gerakan diversifikasi pangan sebetulnya tidak terlalu sulit. “Sulit kalau tidak ada kemauan kita bersama. Apalagi kalau dulu, Maluku, misalnya, sudah terbiasa makan sagu, sekarang bergeser ke nasi,” tambahnya.

Menurut Indroyono, pemerintah sudah menggalakkan sejumlah gerakan untuk mengganti konsumsi nasi dan gandum dengan makanan-makanan seperti roti dan mi berbahan baku lokal, seperti dari ubi jalar, sagu, dan singkong. “Kalau kita mau memiliki ketahanan pangan, kita harus mengarahkan semua itu lokal. Karena kalau enggak, kita enggak kuat dan bergantung pada impor. Gandum kan impor,” ujarnya.

Link ke artikel serupa:

Umbi-umbian, alternatif beras yang baik dan berlimpah

21 Oktober, 2010 at 19:50 Tinggalkan komentar

Pasang Kipas Angin Lebih Baik daripada AC?

Disadur dari Kompas.com

Cuaca yang panas sering kali membuat kita ingin mendekam terus di dalam rumah sambil memasang pendingin udara (AC). Jendela kamar tidur Anda bahkan jarang sekali dibuka karena AC terus menyala sepanjang hari. Anda kurang menyukai penggunaan kipas angin karena ketika bangun tidur perut Anda sering kali jadi kembung atau kepala jadi pusing.

Karena selalu dalam keadaan tertutup, kamar tidur jadi terasa pengap ketika AC tidak dinyalakan. Dan karena selalu menggunakan pendingin udara, kita juga jadi melupakan kipas angin. Padahal, kipas angin terbukti lebih baik daripada air conditioner, dan lebih sehat untuk kita. Ingin tahu kenapa? Adakah tips agar Anda bisa memaksimalkan penggunaannya? (lebih…)

13 Juli, 2010 at 10:13 15 komentar

Media Tanam/Pupuk Ampas Kopi dari Starbucks

Kedai kopi Starbucks di Jakarta memiliki program “Grounds For Your Garden” yang sudah dijalankan oleh Starbucks di seluruh dunia sejak tahun 1995 yaitu untuk memberikan secara cuma-cuma ampas kopi dari kedai tersebut yang dapat digunakan sebagai media tanam dan pupuk. Ampas kopi di masukkan dalam plastik 2 kg-an dan dapat diambil gratis. Kebetulan foto yang saya ambil ini dari Starbucks di Plaza Senayan, Jakarta. Saya tidak tahu apakah hal ini dilakukan di semua kedai Starbucks yang lain.

Ampas kopi ini dapat menambah asupan Nitrogen, Fosfor dan Potasium (NPK) yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga dapat menyuburkan. Ampas kopi ini dapat ditebarkan di taman dan pot anda sehingga dapat mengeluarkan zat-zatnya secara pelan-pelan. Selain itu ampas kopi juga mengandung magnesium, sulfur dan kalsium yang dapat berguna untuk tanaman.

Program ini akan sangat baik bila dapat diikuti oleh kedai-kedai kopi lainnya karena ampas kopi maupun sisa pembuatan kopi espresso sangat banyak dan sangat disayangkan bila dibuang begitu saja. Selain kedai kopi, banyak perusahaan juga menyediakan kopi sendiri sehingga ampas kopinya dapat dikumpulkan dan diambil oleh karyawan yang mau mengambil. Oleh karena itu, hal ini juga dapat menjadi salah satu program CSR dan juga pelestarian lingkungan untuk reduce, reuse, recycle yang baik untuk perusahaan dan sebagai marketing yang baik untuk kedai-kedai kopi dan restoran juga.

Selain perusahaan, banyak juga orang yang membuat kopi di rumah dan membuang ampas begitu saja. Untuk anda yang suka minum kopi maupun teh dirumah, jangan buang ampasnya, anda bisa langsung campur ampas-ampas tersebut untuk kebun anda. Pastinya anda bisa menghemat membeli pupuk dan rumah akan semakin hijau.

4 Mei, 2010 at 13:20 21 komentar

Permainan Saat Earth Hour

Di jaman modern seperti sekarang, kayaknya 1 jam tidak ngapa-ngapain apalagi gelap-gelapan akan terasa sangat lama dan membosankan. Kita sudah terbiasa bahwa selalu ada saja TV, radio, atau komputer yang menyala.

Jadi bagaimana supaya kita tidak merasa bosan saat Earth Hour? Buat permainan yang menyenangkan dengan keluarga atau teman-teman anda.

Yang pasti permainan ini tidak bisa menggunakan listrik. Jadi apa saja yang bisa dimainkan?

  1. Permainan papan (boardgames) seperti catur, monopoly, ular tangga, catur jawa, dll
  2. Main kartu atau domino
  3. Pancasila Lima Dasar
  4. Congklak
  5. Tebak gambar (win, lose or draw)
  6. Tebak lagu (lebih bagus lagi kalau ada yang bisa main gitar)
  7. Adu membuat Lego
  8. Membuat Origami
  9. Pastinya ada banyak yang saya belum terpikir…

Permainan-permainan ini selain mengisi Earth Hour anda, juga dapat mendekatkan hubungan anda dengan teman, keluarga dan orang yang anda kasihi, terutama bila anda sudah lama tidak memainkan permainan-permainan ini.

Siapkan dari sekarang permainan-permainan anda dan nantikan saatnya Earth Hour. Mungkin anda malah bisa-bisa ketagihan.

22 Maret, 2010 at 01:15 13 komentar

Kekacauan Cuaca akibatkan Rawan Pangan

Disadur dari Kompas.com

Waingapu, Kompas – Kekacauan pola cuaca, cuaca dengan curah hujan tinggi, angin kencang, dan pergeseran musim hujan, mengakibatkan ancaman rawan pangan di sejumlah daerah di Indonesia.

Saat ini di sejumlah wilayah telah terjadi mundurnya musim hujan, intensitas hujan yang polanya tak jelas, sementara di daerah lain kekeringan tetap berlanjut. Akibat yang muncul antara lain mundurnya musim tanam, rusaknya tanaman padi, meledaknya hama tikus dan wereng, serta terbatasnya persediaan air untuk irigasi.

Di daerah Nusa Tenggara Timur, misalnya, 121 dari 156 desa di Kabupaten Sumba Timur terancam rawan pangan akibat tanaman jagung mati atau gagal panen karena awal musim hujan tahun ini datang terlambat.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora menyatakan, ”Bulan lalu baru 52 desa yang berpotensi rawan pangan, tetapi akibat sedikitnya curah hujan kali ini jumlahnya bertambah menjadi 121 desa,” katanya, Jumat (12/3). (lebih…)

16 Maret, 2010 at 23:48 11 komentar

Older Posts Newer Posts


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2.481.592 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabung dengan 166 pelanggan lain

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai