Posts filed under ‘Berita Lingkungan Lokal’
Jawa Mulai Alami Krisis Air
Disadur dari antaranews.com
Jakarta, (ANTARA News) – Pulau Jawa sudah mulai memasuki masa krisis air karena setiap penduduk hanya memperoleh rata-rata 1.750 meter kubik (m3) air per tahun.
Sementara suatu wilayah dikategorikan krisis apabila pemenuhan kebutuhan airnya sudah menurun hingga memasuki 2.000 m3 per kapita per tahun, kata Staf Ahli bidang Percepatan Pembangunan Kawasan Timur dan Kawasan Tertinggal Bappenas M Ikhwanuddin Mawardi yang dikukuhkan sebagai Profesor Riset di kantor BPPT di Jakarta, Rabu.
“Bahkan pada 2025 Pulau Jawa hanya dapat menyediakan air sekitar 320 m3 per kapita per tahun atau separuh saja dari yang dibutuhkan penduduknya,” ia menjelaskan.
Pakar Agrometeorologi itu menjelaskan, pada 2025 penduduk Pulau Jawa sebanyak 181,5 juta jiwa, jika setiap penduduk membutuhkan 1.100 m3 air per tahun sesuai standar PBB, maka jumlah air yang dibutuhkan mencapai 199,6 miliar m3, sementara yang tersedia saat itu hanya 50,09 miliar m3.
Pada 1930, ujar dia, Pulau Jawa masih mampu memasok 4.700 m3 per kapita per tahun, namun karena penduduknya meningkat pesat sementara daya dukung alam terus menurun saat ini potensinya tersisa hampir sepertiganya. (lebih…)
Inilah 10 Prinsip Bijak Perempuan Selamatkan Bumi
Disadur dari Kompas.com 19 November 2009
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari mengatakan, dalam perannya sebagai pendidik, perempuan dapat mendidik anak-anaknya dan masyarakat sekitarnya untuk mencintai lingkungan. Hal ini dapat dimulai dengan mengajak mereka menanam dan memelihara pohon serta mendidik anak-anak tidak mengganggu dan membunuh binatang.
“Juga mengajarkan penghematan pemakaian sumber daya rumah tangga, seperti air, energi untuk memasak, energi penerangan, dan alat rumah tangga lain. Termasuk menyadarkan anak dan masyarakat untuk mengurangi pemakaian zat polutan dan lain sebagainya,” kata Linda Amalia Sari pada peluncuran buku State of World Population 2009, Kamis (19/11) di Hotel Borobudur, Jakarta.
Linda menjelaskan, banyak perempuan Indonesia yang mampu menggerakkan masyarakat untuk memperbaiki lingkungan yang kritis, bahkan beberapa di antaranya telah mendapat penghargaan Kalpataru. Sebagai contoh, pemenang Kalpataru tahun 2002 untuk kategori Pengabdi Lingkungan diberikan kepada Ibu Endang Maryatun. Selain itu, Ir Tri Mumpuni menciptakan Energi Listrik Mikrohidro dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, yang merupakan pemenang Kalpataru tahun 2005.
Juga ada Katrina Koni, seorag ibu yang berhasil menghijaukan lahan kritis dengan tanaman kayu-kayuan di Dusun Pokapaka, Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat, NTT.
Menurut Menneg PP dan PA, perempuan pada dasarnya mempunyai dasar kehidupan untuk beradaptasi dan bermitigasi untuk memelihara. Selain itu, sebagian besar perempuan masih menyimpan kearifan lokal yang diwariskan nenek moyangnya. Karena itu, mereka adalah aset penting bagi pemberdayaan, pemeliharaan, dan pencegahan lingkungan dari kerusakan.
Dalam menyikapi pemanasan global, keseimbangan bumi, dan lingkungan hijau, ada 10 prinsip bijak perempuan untuk menyelamatkan Bumi. Pertama, perlakukan tanah secara bijak, bangun rumah di lahan perumahan yang tidak merusak hutan. dan jangan mengubah lahan pertanian menjadi hunian, pabrik, ataupun mal. (lebih…)
Penghijauan, Kurangi Risiko Kebakaran
Disadur dari Kompas.com
Melakukan penghijauan tak hanya bermanfaat untuk peningkatan kualitas kesehatan dan keindahan. Penghijauan ternyata juga dapat mengurangi risiko terjadinya kebakaran.
Sudjadi, Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Barat, mengatakan, hingga bulan Oktober 2009 telah terjadi 168 kasus kebakaran di wilayahnya. “Beberapa kasus terjadi karena api menyala sendiri,” ucapnya di Jakarta, Sabtu (31/10).
Sudjadi mengatakan, api yang menyala sendiri tersebut disebabkan tidak ada media yang dapat menahan panas bumi. Contohnya, seperti kebakaran yang terjadi di daerah Joglo, Jakarta Barat, beberapa waktu yang lalu. Api dalam gudang berasal dari tumpukan barang-barang. Tumpukan barang-barang di gudang lama-kelamaan mengeluarkan panas. Karena tidak ada yang menyerap hawa panas itu, api pun timbul.
“Kalau banyak pepohonan, maka ada media yang menyerap panas yang dikeluarkan bumi. Dengan demikian, tumpukan barang yang ada dalam gudang tidak memercikkan api,” ucap dia.
Menyadari pentingnya penghijauan bagi lingkungan sekitar, Lurah Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Zerry Ronazy mengimbau warganya agar melakukan penghijauan, paling tidak di halaman rumah masing-masing. “Tadinya mau satu orang, satu pohon. Tapi, menjadi satu rumah, minimal satu pohon,” kata dia.
(lebih…)
Perguruan Tinggi Harus Teladani Ramah Lingkungan
Disadur dari Antara News
Selasa, 3 November 2009
Bogor (ANTARA News) – Perguruan tinggi (PT) harus menjadi pusat teladan dan perubahan perilaku yang ramah lingkungan, kata Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Prof Dr Fasli Jalal, Selasa.
Fasli Jalal mengemukakan, partisipasi dan komitmen masyarakat kampus sangat penting dalam upaya mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan.
“PT harus berada di garda terdepan dalam memberikan teladan perubahan perilaku lingkungan hidup. PT harus menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya dan bangsa ini,” tutur Fasli Jalal.
Teladan yang dapat dilakukan PT antara lain dengan mewujudkan lingkungan kampus yang bersih, indah dan nyaman.
Selain itu, lanjut Fasli, kepedulian terhadap lingkungan hidup juga dapat diekspresikan dengan membentuk berbagai pusat studi terkait.
Seperti yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memiliki mayor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL), Manajemen Ketahanan Pangan hingga Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).
Langkah lain dapat diwujudkan dengan menggagas Pusat Perubahan Iklim (Climate Change Center/CCC) yang dapat bermitra dengan Menneg LH dan Bapedalda.(*)
Perguruan Tinggi Harus Teladani Ramah Lingkungan
Selasa, 3 November 2009
Mudik Beda, Mudik Bersepeda
Disadur dari Kompas 18 September 2009
Oleh Tjahja Gunawan Diredja dan Agung Setyahadi
Mudik Lebaran dengan mobil, sepeda motor, kapal laut, pesawat, atau kereta api sudah biasa dilakukan sebagian masyarakat kita. Namun, kalau mudik dengan sepeda, bisa dibilang masih langka. Inilah kisah para pemudik sepeda.
Agung Kuncoro dan tujuh pesepeda lainnya dari Komunitas Jalur Pipa Gas (JPG) sengaja mudik dengan sepeda menuju Boja, Semarang, Jawa Tengah.
Ketujuh pesepeda itu berangkat ramai-ramai pada Rabu (16/9) pagi dari Mpok Cafe, tempat kumpul anggota JPG, dan dilepas oleh teman-teman lainnya. Mereka akan menempuh jarak sekitar 565 kilometer dan direncanakan tiba di Boja pada hari Sabtu (19/9).
”Yang mudik dengan bersepeda ini multiprofesi. Ada yang arsitek, desainer, wiraswasta, dan seorang atlet balap sepeda,” kata Agung.
Suradji atau Aji (33), dengan tujuh kawannya dari kawasan Situ Gintung, Ciputat, berangkat Jumat dini hari menuju Pemalang, Jawa Tengah. Jika lancar, mereka akan sampai Desa Midodaren, Petarukan, pada Sabtu pagi.
Yang paling nekat Fatkhul Hadi (42). Warga Penggilingan, Jakarta Timur, yang berprofesi sebagai tukang jahit itu, ditemui sedang bersepeda sendirian ke arah timur di jalan raya pantura di Sukamandi, Jawa Barat, Minggu. ”Saya mau mudik ke Bumiayu, Brebes,” ujarnya mantap. (lebih…)
Jakarta Mulai bernapas
Jakarta adalah kota dengan tingkat polusi udara ketiga terburuk di dunia setelah Meksiko dan Panama. Dari hasil kajian akademis yang ada dari Pelangi, sektor transportasi merupakan penyumbang emisi gas buang terbesar untuk karbondioksida (CO2), yaitu 92 persen. Sektor lainnya bisa dibilang cukup kecil dibandingkan polusi kendaraan dimana sektor industri menyumbang 5 persen, permukiman 2 persen, dan sampah 1 persen kadar polusi CO2.
Selama masa mudik lebaran 2009 ini, diperkirakan sekitar 50% kendaraan roda empat dan 80% kendaraan roda dua dengan jumlah perkiraan sekitar 3 juta kendaraan roda dua dan 1.5 juta kendaraan roda empat yang keluar dari daerah Jabodetabek.
Walaupun ini berarti polusinya hanya berpindah tempat, tetapi paling tidak Jakarta bisa sedikit bernapas lega sehingga bila anda jalan-jalan di sekitar Jakarta pada libur lebaran ini akan merasa udara lebih fresh.
Selamat mudik, hati-hati di jalan, dan selamat menikmati udara segar untuk yang di Jakarta tidak kemana-mana. Yang ingin bersepeda menikmati Jakarta yang lenggang, inilah kesempatan untuk bersepeda tanpa masker walaupun sulit untuk bersepeda kuliner karena pada tutup 🙂
Air Hujan dan Kita
Saat hujan dicaci-maki, saat kering di cari-cari. Itulah air hujan. Air hujan pada hakekatnya merupakan berkat dari “langit” yang dimampukan dengan adanya siklus air di Bumi kita ini. Memang air hujan adalah bagian dari siklus air yang pernah saya tampilkan pada artikel Fakta Air di Bumi.
Air hujan memang akan terus menerus ada karena siklus tersebut. Tetapi dengan adanya pergantian musim, maka hujan pun akan diganti dengan musim kemarau. Air hujan yang jatuh di kebanyakan tempat di kota-kota besar pun tidak terserap ke dalam tanah, malah terbuang ke got yang akhirnya meluap dan menyebabkan banjir.
Buku “Air Hujan dan Kita” ini memberi petunjuk bagaimana memperoleh dan menggunakan air hujan bagi kebutuhan sendiri atau kelompok. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar dan desain-desain menarik yang sangat mudah dan murah dalam implementasinya. (lebih…)
Hijau di Bulan Puasa
Bulan puasa menurut saya adalah bulan yang sangat hijau. Dengan berpuasa kita dapat mengurangi konsumsi makanan beserta aksesoris yang terkait untuk itu, mulai dari mencuci piring, bahan makanan, minuman dan lain sebagainya yang pada akhirnya juga ikut melestarikan lingkungan. Tetapi selain konsumsi makanan, kita juga akan mengurangi konsumsi rokok dan hal-hal lain yang pastinya baik untuk lingkungan kita.
Diharapkan di Bulan Ramadhan ini, kita semua juga dapat mengisi diri kita dengan hal yang baik serta melakukan hal-hal yang baik juga untuk diri kita, keluarga, teman dan lingkungan kita.
Selamat menunaikan ibadah puasa dari akuinginhijau.org
















Komentar Terbaru