Posts filed under ‘Energi Alternatif’

Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Bio-diesel

Jagung menjadi ethanol

Saya telah menulis sebelumnya dengan judul Bio-diesel: solusi atau problem bahwa dengan adanya perluasan perkebunan kepala sawit karena kebutuhan bio-diesel akan menjadi problem lanjutan karena adanya masalah-masalah baru seperti naiknya harga makanan, dll.

Sekarang ada masalah baru, yaitu perluasan perkebunan tebu, singkong dan jagung untuk membuat ethanol. Baru-baru ini Indonesia juga baru saja membuat perjanjian dengan Brazil yang akan membantu Indonesia mengembangkan industri tebu untuk Ethanol. Ethanol telah dibuktikan bahwa effisiensi energi Ethanol walaupun baik untuk pemakaiannya, sangat tidak effisien dalam produksinya, seperti penggunaan lahan, pupuk, traktor, manusia, dll.

Indonesia masih sangat bergantung pada import untuk Jagung yang kebanyakan dipakai untuk pembuatan pakan ternak dalam jumlah besar. Di Amerika sendiri, peternak disana sudah merasakan akibat dari tingginya harga jagung dengan jatuhnya produksi daging sapi, babi dan ayam. Petani rebutan dengan industri Ethanol untuk supply jagung. Inflasi daging di Amerika yang biasanya hanya 2 persen naik menjadi 3.5 persen. Meksiko sedang merasakan inflasi harga Tortila, yang merupakan makanan sehari-hari disana akibat tingginya harga jagung. Barang lain yang sama pentingnya adalah kedelai, dimana Brazil telah sukses membuat Ethanol dari kedelai untuk penggunaan di mobil. IMF mengatakan bahwa inflasi makanan naik 10 persen di seluruh dunia di tahun 2006 karena naiknya harga jagung, gandum dan kedelai. Itu semua adalah komoditi yang kita makan sehari-hari dan sulit untuk diproduksi di dalam negeri. Gandum yang kita impor dari Australia dan Amerika adalah bahan dasar untuk Indomie dan mie lainnya. Kedelai yang kita impor dari berbagai belahan dunia adalah bahan dasar tahu, tempe hingga oncom. Apakah kita mau menjadi kelaparan karena negara lain berlomba untuk membuat ethanol dari bahan tersebut?

Bila hal ini terjadi di Indonesia, kita akan mendapatkan krisis makanan yang cukup menakutkan karena ayam merupakan sumber protein utama untuk rakyat yang cukup terjangkau. Bila harga jagung impor naik, maka harga pakan akan naik, menaikkan harga ayam potong dan telur. Belum lagi barang-barang komoditi lainnya seperti gula yang juga akan naik akibat produksinya berebut dengan produsen ethanol.

Kita harus memiliki solusi untuk dalam negeri kita. Kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor seperti gandum dan kedelai yang sulit untuk diproduksi lokal. Kita harus mengembangkan komoditi lokal yang dapat menggantikan seperti ketela/singkong, dll. Hal ini adalah masalah nasional yang harus kita pikirkan bersama karena bila kita terlambat, maka musibah tidak dapat dicegah. Bila Amerika ingin mengurangi ketergantungan minyak dari Timur Tengah, maka kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor.

15 April, 2007 at 22:42 27 komentar

Biodiesel: Solusi atau Problem?


Pemerintah sedang gembar-gembor untuk memakai biodiesel dimana diharapkan dengan solusi ini maka penggunaan solar dapat dikurangi karena adanya campuran dengan solar yang merupakan hasil proses dari minyak kepala sawit, jagung, kedelai, jarak, tebu, singkong dll.

Manusia secara bergenerasi telah bercocok tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sekarang pun kita masih dapat melihat adanya kekurangan pangan dari negara kita. Kita masih belum bisa berswasembada pangan. Dengan adanya pertumbuhan dari kedua pihak antara populasi manusia dan mobil, kalau kita akan menggunakan bahan makanan yang kira perlukan itu untuk menjadi energi, apakah kita ingin memberi makan untuk orang atau mobil?

Tidak akan ada lahan, air ataupun tanah produktif yang cukup untuk dapat menggantikan seluruh kebutuhan energi kita. Produksi dari biodiesel itu sendiri pun menggunakan banyak sekali lahan dan energi. Produksi lahan tanaman seperti kelapa sawit atau jarak akan memerlukan pupuk yang dibuat dari hasil gas alam, pestisida yang juga merupakan turunan dari minyak, input dari energi lainnya seperti bahan bakar untuk traktor, truk pengangkut, dan pabrik penyulingannya. Selain itu, lahan tersebut juga akan memerlukan air dan harus mengurangi daya kesuburan tanah.

Bila kita lihat energi yang digunakan, maka biodiesel akan memakai energi yang lebih banyak dalam tahap produksinya dibandingkan dengan minyak bumi biasa, dari sumur explorasi sampai dipakai di mobil.

Dengan adanya kompetisi antara kebutuhan makan manusia dan energi, maka dengan menipisnya supply dan tingginya demand akan menaikkan harga komoditi tersebut sehingga pada akhir dari rantai tersebut maka produk akhir yang dijual kepada pelanggan pun akan lebih mahal. Contohnya, bila harga minyak kelapa sawit naik, karena minyak kelapa sawit adalah bahan dasar untuk pembuatan dari es krim, biskuit, mentega, minyak goreng hingga sabun dan shampoo, maka dapat dibayangkan konsekuensi naiknya harga CPO kepada seluruh inflasi dan ekonomi kita.

Para pengusaha pun dengan adanya kenaikan harga akan menjadi insentif mereka untuk menanam lebih banyak lagi. Dan bila hutan heterogen kita yang penuh dengan tanaman berguna serta binatang yang bergantung pada ekosistem tersebut, akan musnah dengan adanya hutan homogen dari perkebunan besar itu. Akhirnya adalah musnahnya spesies tanaman dan binatang yang penting untuk keseimbangan alam kita.

Solusi yang paling baik tetap untuk mencari solusi terbaik energi alternatif yang terbarukan dari air/ombak, angin dan sinar matahari.

2 Februari, 2007 at 18:12 5 komentar

Newer Posts


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2.482.183 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabung dengan 166 pelanggan lain

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai