Posts filed under ‘Energi Alternatif’

Pakai baterai rechargeable? kenapa tidak

Disadur dari: blog lentrasystems

Kembali lagi dengan artikel ramah lingkungan alias go green. kali ini saya akan membahas tentang penggunaan baterai rechargeable. saya yakin anda pasti punya perangkat elektronik yang menggunakan baterai bukan? minimal remote tv anda pasti menggunakan baterai… nah sekarang yang menjadi pertanyaannya apakah anda masih menggunakan baterai sekali pakai? jika ya jawabannya, mudah-mudahan pembahasan ini bisa membuat anda berubah pikiran, mari kita bahas satu persatu…

kelebihan dan kekurangan

apa sih yang jadi keunggulan baterai rechargeable? wah banyak sekali, mulai dari kapasitas maksimal yang lebih besar (lebih tahan lama dibanding non alkaline), tidak perlu membeli ulang, dan yang terpenting anda bisa mempraktekkan peduli lingkungan… , namun selain banyak kelebihan, baterai rechargable juga punya “beberapa” kelemahan, misal tegangannya lebih rendah dari baterai alkaline biasa (berpengaruh pada perangkat tertentu terlihat lebih cepat habis) dan lagi-lagi harga awalnya lebih mahal

Hitung-hitungan

lalu kenapa saya menyarankan menggunakan baterai rechargeable? nah mari kita bahas sedikit mengenai biaya penggunaan baterai rechargeable. modal awal baterai rechargable biasanya satu paket: baterai-nya plus charger(disarankan quick charge). Harganya bervariasi anggap saja satu paket Rp 220.000 (dengan 2 buah baterai AA 2700mAh), sedangkan baterai alkaline sekali pakai patok harganya Rp 10.000 (2 buah AA) alias Rp 5.000 per unit, dengan kapasitas kurang lebih 2700mAh. Biasanya baterai rechargeable bisa diisi ulang sampai 500 kali, untuk amannya kita patok 75% nya aja alias 375 kali. Kemudian biaya isi ulangnya bisa dihitung sederhana seperti ini:

biaya = biaya listrik x kapasitas baterai / efisiensi charger = Rp 700/kWh X (2,7Ah X 1,2V / 1.000) / 85% = Rp 2,7(wow murah kan!!!) (lebih…)

7 Desember, 2010 at 22:10 3 komentar

Juni, Angkot Bogor Gunakan Mobil Ramah Lingkungan

Disadur dari Okezone.com
BOGOR – Mulai Juni mendatang, semua mobil-mobil yang digunakan untuk angkutan kota (angkot) di Bogor, akan menggunakan bahan bakar gas (BBG).

Program konversi BBG untuk angkot ini akan diluncurkan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bogor, 3 Juni mendatang.

Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengatakan, tahap pertama pelaksanaan BBG akan dilakukan dengan pembagian converter kit (alat pengalih bahan bakar) gas kepada seribu angkot dan pembangunan dua unit stasiun pengisian BBG.

“Peluncurannya ini kami adakan serentak dengan peringatan ulang tahun Kota Bogor. Sekalian menetapkan Kota Bogor sebagai pilot project kota yang memiliki transportasi ramah lingkungan,” kata Diani selepas menyambut Menteri Pemuda dan Olahraga Sudan Mochammad Yusuf Abdalla, Jumat (24/4/2009).

Seribu angkot akan dipasangi converter kit secara gratis mulai Juni mendatang. Proses pemasangan converter kit itu ditargetkan selesai seiring berdirinya dua stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) akhir 2009 yakni di Jalan Raya Pajajaran dan Sukasari, Bogor, Jawa Barat.
(Koran SI/Koran SI/ton)

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Trayek Angkot Bogor bisa baca di Blog Eengsu

29 April, 2009 at 13:09 3 komentar

Hillary Clinton pun meninjau MCK penghasil biogas

Jauh-jauh Ibu Hillary Clinton ke Indonesia selain bertemu dengan Kepala Negara Indonesia, ternyata ia juga mampir ke daerah petojo untuk melihat hasil sumbangan USAID yaitu MCK yang juga menghasilkan biogas.

Biogas sebenarnya sudah dimulai juga di banyak daerah di Indonesia tetapi memang belum dimaksimalkan karena kalau kita melihat data dari Direktorat Pengembangan Energi dari artikel di Kompas tgl 20 Februari 2009, sampah organik di Jakarta saja bisa menghasilkan 50 MW.

Kalau di desa-desa sekarang sudah mulai ada biogas yang dibuat dari kotoran sapi yang dikumpulkan dimana gas yang dihasilkan dihubungkan ke tabung besar dan siap pakai untuk kompor. Hal ini sangat positif dan harus diteruskan di semua desa. Salah satunya adalah dengan agenda tanggung jawab sosial perusahaan. Untuk biogas kotoran sapi di beberapa desa di Cirata dilakukan oleh BPWC (Badan Pengelola Waduk Cirata) yang memiliki program-program untuk pedesaan sekitar Cirata.

Semoga, seperti yang ditulis di Kompas, kunjungan Ibu Hillary Clinton ini dapat memelekkan mata kita betapa besarnya sumber daya yang kita miliki tetapi selalu kita buang-buang percuma, sehingga mulai sekarang kita dapat memikirkan hal-hal positif untuk semua hal mulai dari sampah rumah tangga, sampah pasar, kotoran sapi/ayam hingga kotoran manusia yang dapat diolah menjadi energi, pupuk atau hal berguna lainnya.

20 Februari, 2009 at 13:54 9 komentar

Serius menangani masalah iklim dengan membuat Departemen khusus

Indonesia memang banyak ketinggalan mengenai energi terbarukan. Jangankan energi terbarukan, yang memakai batubara saja masih kekurangan dan masih menunggu proyek 10.000 MW di tahun 2009, “katanya.” Tetapi tidak ada salahnya untuk pemerintah kita mulai mencoba proyek-proyek energi terbarukan. Salah satu yang sangat memberi harapan adalah energi Geothermal yang sudah dimulai. Selain itu dengan iklim tropis yang banyak matahari juga memberi potensi untuk tenaga surya, dimana mudah2an panel sel surya bisa semakin lama semakin murah. Dengan pantai yang panjang dan laut yang luas maka tenaga ombak dan arus air laut juga sangat berpotensi. Salah satu kolaborasi dilakukan oleh PT. Walinusa dan Ponte di Archimede, Italia untuk mencoba tenaga arus air laut di pesisir salah satu pulau di Sulawesi.

Artikel dibawah ini disadur dari Blog Kunaifi tentang beberapa negara yang serius menangani masalah iklim dengan membentuk departemen khusus energi terbarukan dan perubahan iklim. (lebih…)

13 November, 2008 at 17:57 4 komentar

Atap Putih Untuk Dunia Hijau

Warna apakah atap rumah anda?

Warna atap rumah ada yang tradisional berwarna merah bata, biru, hitam, hijau tua, dan lain-lain. Sangat jarang kita melihat atap berwarna putih. Untuk bangunan dengan dak pun biasa mengikuti warna semen yaitu abu-abu.

Ternyata untuk kita yang tinggal di daerah tropis dan panas, atap putih dapat mengurangi pemakaian AC sebesar 20%. Negara bagian California di Amerika Serikat malah mengharuskan semua bangunan baru, sejak tahun 2005, beratap berwarna putih, untuk permukaan atap yang rata maupun terap.

Permukaan atap menutupi rata-rata 25% dari seluruh permukaan kota. Sedangkan jalanan menutupi sekitar 35% dari seluruh permukaan kota. Menurut penelitian dari Hashem Akbari, seorang peneliti dari Heat Island Group, bila 100 kota didunia mengganti atap dengan warna putih, dan juga jalanan dengan bahan yang lebih memantulkan cahaya, seperti jalan beton dibandingkan jalan aspal, maka efek pendinginan global yang dihasilkan akan sangat besar. (lebih…)

18 September, 2008 at 18:11 21 komentar

Pakai Pengering Elektrik Atau Tissue?

Hand Dryer

Siapa yang tidak hobi memakai tissue? Di Indonesia semua restoran sampai warung harus menyiapkan tissue, kalau tidak kita bisa pikir servisnya payah banget. Padahal kalau kita di Singapore atau Malaysia, disana resto dan warung kecil pun tidak menyediakan. Disini kalau makan di warung, sudah jelas banyak orang setelah pakai tissue langsung buang ke lantai. Kalau kita ke toilet di restoran atau hotel, kita juga sering lihat tempat sampah yang penuh dengan tissue yang mungkin hanya dipakai sebentar untuk mengelap tangan. Kalaupun ada pilihan antara pengering elektrik atau tissue, kita akan lebih memilih tissue.

Untuk anda yang memiliki restoran, hotel atau kantor, pilihan untuk menggunakan pengering elektrik dibandingkan tissue merupakan hal ekonomis yang tidak dapat dipungkiri. Apalagi pengering elektrik itu sebenarnya sangat sederhana karena hanya terdiri dari koil, fan dan switch elektrik, tidak memerlukan banyak perawatan, dan bisa tahan sampai 7 tahun. Jadi setelah pemasangan, pengering elektrik sudah tidak memerlukan pengeluaran lainnya selain listrik yang digunakan.

Kalau 1 orang menggunakan rata-rata 20 detik waktu pengering dengan konsumsi rata-rata 2 KW maka:

(20 detik/3600 detik) x 2KW = 0.01 KwH per orang
Dengan asumsi harga per KwH 1000 rupiah (ini harga di atas rata-rata tarif bisnis) maka

0.01 KwH x 1000 rupiah = 10 rupiah per orang per pemakaian 20 detik

Tissue GulungKalau kita bandingkan dengan pemakaian tissue gulung (paper towel). Kita dapat asumsikan rata-rata penggunaan tissue sebanyak 2 lembar per pemakaian. Harga rata-rata 1 gulung paper towel dengan total 150 lembar rata-rata Rp. 10,000-15,000. Jadi harga per lembar itu adalah kira-kira 60 – 100 rupiah. Kalau 1 orang memakai 2 lembar maka harga untuk sekali pemakaian adalah minimal 120 – 200 rupiah.

Lebih dari itu, kalau menggunakan tissue, proses pembuatannya pun sudah sangat boros energi. Mulai dari pembuatan bubur kertas sampai dipanaskan serta di packing. Setelah itu, setiap tempat yang kehabisan tissue harus mengeluarkan energi untuk mendapatkan tissue yang baru yang diambil atau diantar terus menerus. Setelah itu, semua sampah pun harus diantar ke tempat pembuangan sampah terakhir (TPA). Efek supply chain dan logistik yang disebabkan oleh tissue menjadi sangat panjang. Ongkos adalah salah satu faktor tetapi efeknya ke lingkungan kita sangat besar.

29 Mei, 2007 at 15:53 10 komentar

Biofuel dalam kartun

Jagung ethanol

Jangan cuma lihat hasilnya saja, lihat proses penanaman dan produksinya juga. Ethanol bukan hanya dari jagung, kebetulan Amerika memiliki lahan jagung yang berkelebihan, walau sekarang antara kebutuhan makanan dan ethanol sudah mulai bersaing. Di Indonesia ethanol dibuat dengan bahan dasar tebu dan singkong. Ini pun merupakan bahan makanan kita sehari-hari. Padahal bila dibandingkan dengan pemakaian BBM, persentasenya juga sangat kecil, tapi malah menyulitkan masyarakat dengan naiknya harga.

Sekarang hampir setiap hari koran memberi berita kenaikan harga minyak goreng, kenaikan harga CPO, ingin adanya kenaikan pajak CPO untuk export dan sebagainya. Ini adalah hasil dari tren masyarakat dan politisi yang ingin “kelihatan” cinta lingkungan padahal malah merusak (lihat artikel blog saya sebelumnya). Padahal minyak goreng itu adalah kebutuhan sehari-hari. Apa kita mau kalau makan tempe atau tahu goreng yang jadi mahal? Atau karena tingginya harga minyak goreng, maka para pedagang pun malah memakai minyak goreng berkali-kali melebihi biasanya, atau membeli minyak bekas yang sudah sangat tidak sehat?

Lebih baik kita mulai menggunakan alternatif lain untuk transportasi. Jalan kaki, naik sepeda, naik busway, nebeng teman, nebeng tetangga. Jangan manja memakai kendaraan ke tempat-tempat yang dekat.

Lihat artikel lain yang berhubungan:
Biodiesel: Solusi atau Problem
Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Biodiesel

4 Mei, 2007 at 12:56 3 komentar

Fakta Energi Indonesia! Jangan kira kita begitu kaya akan sumber daya.

Indonesia sering disebut sebagai negara kaya akan sumber daya. Memang pada saat ini untuk export batubara dunia saja kita telah melewati Australia sebagai exporter batubara no. 1 di dunia. Lumayan, kadang kita jarang mendapat juara. Tapi ini karena 75% dari produksi dalam negeri kita export. Kita adalah produsen batubara no.4 setelah China, India dan Afrika Selatan. Walaupun total cadangan batubara kita sekarang kira-kira 5 milyar ton, itu sebenarnya hanya 3.1% dari total cadangan dunia. Kalau kita bilang kita adaah juara, kita memang juara dibodohi oleh orang luar negeri. Mereka menyimpan cadangan mereka selama mungkin sampai cadangan kita habis dan harus mau tidak mau membeli dari mereka. Itu sama saja dengan dijajah kembali!!

Bagaimana kita bisa dijajah? kalau kita lihat, 87% pembangkit tenaga kita berasal dari pembangkit yang menggunakan minyak, gas dan batu bara. Hanya 10.5% dari tenaga air dan 2.5% dari geothermal.

Padahal, cadangan minyak kita dibandingkan cadangan dunia hanya 0.6%, cadangan gas hanya 1.6% dan again, cadangan batubara hanya 3.1%.

Kalau hal ini terus terjadi, yaitu ketergantungan dengan minyak, gas dan batubara, ke masa mendatang, maka suatu hari kita akan benar-benar kehabisan sumber daya dan harus membeli semua dari luar negeri. Benar-benar penjajahan secara halus yang sedang dilakukan.

Jadi kita sebenarnya kaya sumber daya atau tidak? Tentu saja kaya.

Sumber daya panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai 20,000 MW atau setara dengan 40% dari total geothermal dunia. Kita baru mendayagunakan kira-kira 5% saja dari total potensinya. Kemampuan sumber daya air kita untuk membuat PLTA atau PLTM (pembangkit listrik tenaga mini-hydro) mencapai 75,000 MW. Selanjutnya, sumber daya matahari kita pun cukup baik dengan rata-rata 4.8 kWh/m2.

Bila kita bandingkan dengan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar minyak, maka untuk setiap 1MW yang dihasilkan oleh pembangkit dengan tenaga terbarukan dapat menghemat 10 milyar rupiah pembelian BBM.

Inilah faktanya. Apakah kita akan terus menjual hasil alam kita dan mengorbankan masa depan anak cucu kita? Atau kita juga dapat mulai menghemat dan mencari alternatif untuk kebutuhan energi kita.

26 April, 2007 at 12:34 7 komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2.398.712 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 318 pengikut lainnya