Bahasa Pohon Selamatkan Bumi

25 April, 2008 at 22:44 17 komentar

Diambil dari Harian kompas, Jumat 25 April 2008.

Oleh NIRWONO JOGA

“The best friend on earth of man is the tree. When we use the tree respectfully and economically, we have one of the greatest resources of the earth”. (Arsitek Frank Lloyd Wright)

Banyak cara dapat kita lakukan untuk menyelamatkan Bumi yang kian rapuh. Salah satunya dengan menanam pohon, sang primadona efek pemanasan Bumi, penyelamat lingkungan.

Pohon adalah salah satu keajaiban alam terhebat. Semua ajaran agama dengan tegas menempatkan pohon menjadi simbol dan sumber kehidupan manusia. Relief-relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan candi-candi lain melukiskan pohon dalam kehidupan kita. Sakral dan romantis. Cinta dan kedamaian terukir dengan menanam pohon dan segala aktivitas kehidupan di bawah pohon. Kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon.

Pohon adalah pembentuk ruang paling dasar (akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya. Sang Buddha Gautama merenung hening di bawah pohon Bodi (Ficus religiosa). Para murid yang sekolahnya ambruk tetap dapat belajar di bawah kerindangan pohon.

Bumi dan perempuan adalah satu. Kata bumi sendiri berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak menghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan menginspirasi Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon (1/12/2007) untuk menyelamatkan Bumi.

Pohon Beringin (Ficus benjamina) dipilih sebagai lambang Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila. Pohon kalpataru (Barringtonia asiatica), pohon kehidupan, dijadikan simbol penghargaan bagi pahlawan pelestarian lingkungan hidup. Meski bukan partai hijau, sebuah partai politik besar justru memakai lambang pohon beringin untuk mencitrakan partai yang memberi keteduhan kepada rakyat.

Pusat-pusat kota di Jawa ditandai dengan dua pohon beringin kurung di alun-alun sebagai titik nol kota. Pohon kamboja (Plumeria alba) banyak ditanam di pura-pura suci di Bali atau di tanah pemakaman di Jawa.

Sebutan kota-kota kita juga ada yang berasal dari ciri khas pohon-pohonnya, seperti Semarang (pohon asam yang ditanam jarang-jarang), Bogor yang identik dengan pohon kenari. Begitu pula sejumlah kawasan di Jakarta, dulu Sunda Kelapa (Cocos nucifera), kawasan Menteng (Baccaurea recemosa), Cempaka Putih (Michelia alba), Karet (Ficus elastica), Kemang (Mangifera caecea), Kelapa Gading (Cocos capitata), Kapuk (Ceiba petandra), Kosambi (Schleichera oleosa), atau Kebayoran (Bayur = Pterospermum javanicum).

Tetapi pohon-pohon kini merana karena tumbang ditiup angin atau ditebangi tanpa terkendali. Padahal, pohon wajib dilindungi dan dilestarikan apa pun alasannya. Menebang pohon sama saja mempercepat ajal kita.

Pada era pemanasan Bumi dan berbagai bencana alam (banjir, tanah longsor, pencemaran udara, krisis air) terjadi, gerakan penanaman pohon besar yang lebih banyak lagi merupakan hal mutlak. Pohon berjasa menahan air dalam tanah, mencegah erosi dan longsor, menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup, memproduksi oksigen, menyerap karbondioksida—gas rumah kaca penyebab pemanasan global—menyaring gas polutan, meredam kebisingan, angin dan sinar matahari, dan menurunkan suhu kota.

Menanam pohon sebenarnya berbicara tentang kearifan konsumsi-investasi, menjamin kelangsungan lingkungan hidup warga dan kota. Selalu ada alternatif penyelesaian cerdas dalam membangun kota tanpa harus menebangi pohon jika kita mau berpikir panjang. Seluruh warga hendaknya berpartisipasi menggerakkan lompatan besar menghijaukan kota melawan proses penggurunan kota (hutan beton).

United Nations Environment Programme (UNEP, 2007) berkampanye ”Plant for the Planet: Billion Tree Campaign”, sebagai salah satu upaya memulihkan kondisi Bumi dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon (http://www.unep.org/billiontreecampaign). Di kita, gerakan penghijauan masih sekadar seremonial belaka. Terbengkalai, tidak dipelihara, dan mati.

Menanam pohon ada aturannya, tidak asal tanam. Penanaman pohon mensyaratkan kecocokan jenis pohon (pantai, dataran rendah, pegunungan), fungsi (ekologis, ekonomis, estetis), ketepatan cara (standar keamanan dan keselamatan), waktu penanaman, penyediaan, pemilihan, dan pendistribusian (dalam jumlah besar), serta pemeliharaan pascatanam. Penanaman harus memerhatikan segi estetika arsitektural, lanskap visual kota, peran maksimal terhadap lingkungan, aman terhadap konstruksi, batang tak mudah patah, dan berumur panjang (ratusan tahun).

Pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air tanah ditanam di lahan kritis yang rawan longsor dan erosi. Pohon bakau memagari kawasan tepian pantai hingga menyusup ke jantung kota melalui bantaran kali untuk mencegah intrusi air laut, menahan abrasi pantai, menahan air pasang, angin dan gelombang besar dari lautan lepas, mencegah pendangkalan dan penyempitan badan air, menyerap limpahan air dari daratan (saat banjir), menetralisasi pencemaran air laut, dan melestarikan habitat tiga ekosistem hutan bakau yang kaya keanekaragaman hayati.

Jenis pohon tertentu terpilih sebagai pohon penyelamatan (escape trees) yang ditanam di sepanjang jalur evakuasi bencana (escape route) menuju taman atau bangunan penyelamatan (escape building) lainnya. Penanaman pohon besar di sepanjang jalur hijau jalan, jalur pedestrian, bantaran rel kereta api, jalur tegangan tinggi, serta jalur tepian air bantaran kali, situ, waduk, tepi pantai, dan rawa-rawa akan membentuk infrastruktur hijau raksasa yang berfungsi ekologis. Kota pohon memberi keteduhan pada pejalan kaki dan penunggang sepeda.

Berbagai penelitian membuktikan, 1 hektar ruang terbuka hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar menghasilkan 0,6 ton O2 untuk 1.500 penduduk/hari, menyerap 2,5 ton CO2/tahun (6 kg CO2/batang per tahun, menyimpan 900 m3 air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari, menurunkan suhu 5°C-8°C, meredam kebisingan 25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen. Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap oleh 4 pohon dewasa (tinggi 10 m ke atas, diameter batang lebih dari 10 cm, tajuk lebar, berdaun lebat).

Pemerintah perlu menyurvei ulang, mendeteksi tingkat kesehatan dan keamanan, serta mengambil tindakan perawatan, pemeliharaan, dan asuransi pohon. Unit reaksi cepat perlu tanggap memberi pertolongan darurat, memangkas pohon sakit atau rawan tumbang, menyingkirkan pohon tumbang, mengangkut, dan mengolah sampah pohon, serta didukung standar kinerja, kompetensi pekerjaan, sertifikasi tenaga pengawas, dan pelaksana pemeliharaan pohon. Ini agar warga kota tidak paranoid, takut pohon tumbang saat musim hujan tiba atau ada angin puting beliung.

Pemerintah bersama masyarakat dapat memelihara dan melindungi pohon. Kita dapat mengadopsi dan menjadi orang tua angkat pohon-pohon besar di depan rumah.

Ada beberapa pohon yang layak tanam untuk kota besar seperti Jakarta, yaitu pohon trembesi/Ki Hujan (Samanea saman), asam (Tamarindus indica), mahoni (Swietenia mahogani), tanjung (Mimusops elengi), atau bintaro (Cerbera manghas). Selain itu, pohon buah-buahan yang menarik bagi burung dan tupai dapat pula ditanam di lingkungan rumah kita, seperti pohon mangga (Mangifera indica), sawo kecik (Manilkara kauki), rambutan (Nephelium lappaceum), nangka (Artocarpus integra). Kawasan pantai dapat ditanami waru laut (Hibiscus tiliaceus), cemara laut (Casuarina equisetifolia), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminilia cattapa).

Kita tidak akan pernah dapat menghargai pohon selama kita tak pernah mendengarkan bahasa pohon. Seperti pepatah bijak dari China 500 SM, ”jika engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih, jika engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon”. Ingat pula, kata Al Gore, ”Plant trees, Lots of trees,” (An Inconvenient Truth, Al Gore, 2007).

NIRWONO JOGA Arsitek Lansekap

Iklan

Entry filed under: Berita Lingkungan Lokal, Tanaman Bermanfaat.

Tips: Makan Timun dan Makan Sate Bola Basket Daur Ulang

17 Komentar Add your own

  • 1. frida  |  26 April, 2008 pukul 17:23

    Pengalaman membuktikan, hobi berkebun bermanfaat untuk ketenangan jiwa, kekuatan tulang (karena mandi cahaya matahari pagi), kesehatan tubuh (keringat keluar = racun keluar) dan perbaikan lingkungan (supply oksigen meningkat).

    Meski lahan sempit, beragam jenis pohon tidak menuntut tempat bersangga yang luas, jadi bisa kita gunakan pot.

    Kupu2 datang, burung2 mengendap2. Nikmati keajaiban alam.
    Ayo menanam pohon!

  • 2. NuQ  |  31 Mei, 2008 pukul 20:15

    Lumayan Bagus…!

  • 3. ramadhanchan  |  25 Juni, 2008 pukul 11:39

    Pokoknya kita selamatkan bumi…ehhh mo nanya, scripts banner untuk kampanye peduli bumi nyarinya dimana yah?

  • 4. puthutendiarto  |  3 September, 2008 pukul 10:10

    halo saya mempunyai uneg2 sebab saya setuju dalam penghijauan dan itu adalah hobi saya(menanam pohon). Saya ini samapai sekarang lom tau bagaiman caranmya membudidaya pohon beringin. Mbok saya dibritau.

  • 5. HASSAN THE KEY  |  16 Januari, 2009 pukul 08:05

    well. terus berkiprah menanam pohon.
    saya juga banyak memiliki stok biji2 pohon langka : Kepuh, kosambi, kedoya, putat, nagasari. asam jawa palem putri, palm merah.

  • 6. bagus pradana  |  6 Februari, 2009 pukul 17:07

    saya punya sebuah panti dan saya ingin mengadakan sosiakisasi tentang global warming dan saya bermaksud mengundang redaksi aku ingin hijau ke panti saya .saya harap permintaan iini dapat dikabulkan .

    hubungi saya

  • 7. arie yamani  |  24 Februari, 2009 pukul 15:48

    Coba lihat sekarang, poster para caleg dipakukan di pohon-pohon di sebagian besar ruas jalan kota-kota di indonesia. Photo setengah badan para caleg sebenarnya tak lebih dari “penunggu” pohon. Cuma satu kata : Vandalisme!

  • 8. Edwin  |  23 April, 2009 pukul 16:00

    jangan lupa pohon Nimba. Itu adalah pohon anti nyamuk dll.
    http://forestry.about.com/od/neemtree/The_Benefits_of_the_Neem_Tree.htm

    Edwin
    Belanda

  • 9. SUNU  |  8 September, 2009 pukul 21:27

    Saya sangat prihatin melihat pantai selatan DI Yogyakarta (Parangtritis, Samas, Depok, Parangkusumo, dll) sangat gersang, saya ingin mencoba menanami daerah tsb dengan pohon perintis, separti Mahoni (Swietenia Mahagoni), ato Ketapang (Terminilia Cattapa), bibit secara swadaya sudah saya siapkan. Saya butuh relawan yang bersedia membantu untuk menanam di Musim Penghujan (Sekitar Nop 2009 s/d Pabruari 2010).
    Pohon bagi saya tidak hanya sekedar “makhluk hidup”, tetapi juga monumen hidup. Karena setiap saya punya hari penting, seperti kelahiran anak, serta perkawinan, pasti saya tanam pohon, buat kenang-kenangan.
    Bisa kita bayangkan misal institusi pernikahan, mewajibkan bagi calon mempelai untuk menanam pohon. Maka akan tertanam beberapa ribu pohon setiap harinya.
    Dan pemerintah seharusnya mengeluarkan semacam Peraturan bagi tingkat daerah maupun pusat untuk melindungi secara hukum, hasil penanaman pohon oleh masyarakat kita.
    Lagu dan karya seni aja ada hak ciptanya, kok masyarakat yang menanam pohon, tidak memiliki hak atas karyanya ?
    Mari kita tanam pohon, untuk hari depan yang lebih baik,

  • 10. ahmad  |  27 Oktober, 2009 pukul 08:35

    mas Sunu. Minta Bibitnya donk.. Satu Pohon Tertanam = satu Amal jariyah

  • 11. ekyon r  |  6 Januari, 2010 pukul 11:39

    saya ada permintaan biji kosambi, dimana bisa saya dapat dalam jumlah banyak?

  • 12. Iwan Arifin  |  11 Oktober, 2010 pukul 20:02

    Mohon bantuan Bapak / Ibu ditempat.
    Saya ingin menanam beberapa pohon didepan rumah, seperti yang seringkali saya lihat ditanam dipinggir jalan perumahan di Jakata.
    Bentuk pohonnya berkelompok seperti payung, daunnya menyerupai daun singkong karet. Batangnya hijau seperti batang randu.
    Di Gogle saya dapatkan gambar pohon yang menyerupai, dengan nama : Terminalia-catappa ?
    Mohon informasi dimana pohon tersebut bisa saya dapatkan.
    Terima kasih atas perhatian dan bantuan Bapak / Ibu.

    Hormat saya,

    Iwan Arifin
    08159304451
    Pamulang Permai I
    Blok B 17 N0.34-35
    Ciputat 15417

  • 13. tiyaa  |  19 Oktober, 2010 pukul 21:19

    boleh copy info nya ga??
    buat tugas nih.
    makasih sebelum nyaaa 🙂

  • 14. Muhammad Adi Riswan Al Mubarak  |  21 Desember, 2010 pukul 13:07

    mantap.. saya suka dengan artikel anda… salam kenal..
    mampir ya : http://ananajahamin.wordpress.com/2010/12/21/tanamkan-kesadran-lingkungan/

  • 15. gudang petualang  |  28 Maret, 2011 pukul 16:25

    berharap dikaruniai umur seumur nabi Muhammad, target 1 week 1 tree sudah tercapai…. mimpi selanjutnya 1 day 1 tree…

  • 16. yani prawiro  |  5 September, 2011 pukul 19:35

    bagus, inspiratif ( especially 4 me )

  • 17. muthia  |  8 Desember, 2011 pukul 08:35

    Sebelumnya saya meminta izin kepada pemiliki blog, bahwa saya menggunakan gambarnya dalam Love Tress Community yang saya buat di group Facebook saya, silahkan mengklik di

    http://www.facebook.com/groups/149447005160025/

    trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,247,388 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 334 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: