Contoh Keluarga Hijau dari Luar Negeri

5 Januari, 2008 at 22:56 7 komentar

Family pictureSaya ketemu beberapa blog dari keluarga yang mencoba untuk menjalankan hidup dengan ramah lingkungan. Memang bisa cukup ekstrim seperti tidak memakai mobil sama sekali atau menggunakan panel surya di rumah sehingga tidak pernah membeli listrik lagi. Cukup menarik dan kalau mereka bisa kenapa kita tidak.

  • Thatdamngood.net (tentang keluarga di California yang mau hidup tanpa mobil)
  • Noimpactman.typepad.com (keluarga di New York yang tidak mau memberikan emisi sedikit pun, jadi hidup tanpa TV, plastik, AC, tanpa sampah, dsb selama 1 tahun)
  • Carfreefamily.blogspot.com (perjalanan sebuah keluarga untuk hidup tanpa mobil di New Mexico)

Ada sebuah cerita juga…

Kita sering diingatkan oleh orang tua kita untuk tidak menyisakan makanan karena banyak orang yang kelaparan seperti orang di Afrika. Apalagi saya tumbuh di lingkungan pada jaman Ethiopia sedang kelaparan. Tetapi bagaimana cara mengajarkan anak tentang sisa makanan dengan baik?

Seorang ibu di Amerika sering sekali mendapatkan sisa makanan dari anak-anaknya sampai istilahnya dia bilang kalau sehabis masak mendingan langsung dibuang saja karena pada akhirnya makanan itu terbuang juga. Pada suatu hari dia mengundang seorang aktivis tempat gelandangan dimana mereka selalu membagi-bagikan makanan gratis untuk orang yang tidak memiliki tempat tinggal tersebut. Mereka pun bilang ke anak-anaknya akan pergi makan di luar karena uang ibu tersebut sudah tidak cukup untuk beli makan.

Ibu tersebut sengaja datang agak terlambat ke tempat itu dan menyuruh anak-anaknya mengantri untuk mendapatkan makanan. Dan ketika sudah semakin dekat, makanan pun habis sehingga anak-anak itu pun panik dan berkata kalau begitu masa kita tidak makan? Ibu itupun lalu menjelaskan bahwa banyak orang yang seperti itu dimana mereka tidak bisa makan karena tidak ada uang ataupun kehabisan bagian.

Setelah kejadian itu, setiap kali mereka makan, anak-anak itu pun dengan gembira mencium bau masakan tersebut lalu menghabiskannya.

Memang orang itu harus merasakan sendiri, bukan karena teori atau hanya diberitahu. Kalau sudah ada pengalaman pribadi, maka orang pun bisa lebih menghargai.

Iklan

Entry filed under: Manifesto Hijau.

Trik Mudah Nyetir Yang Hemat dan Ramah Lingkungan Geng Anti Kresek dari Yogyakarta

7 Komentar Add your own

  • 1. Guntar  |  8 Januari, 2008 pukul 22:27

    Bagus sekali tipsnya. dan memang klo kita menghargai makanan, rasanya lebih nikmat lho. BUkan hanya dari rasa, tapi juga aroma dan tekstur makanan di lidah. Dg begitu, kita juga akan jadi lebih mudah utk bersyukur 🙂

  • 2. TH  |  15 Januari, 2008 pukul 02:34

    nasehat, teguran & lainnya memang baik
    bertujuan agar menjadi kita jadi lebih baik
    namun masih ada hal lain yang ter-baik
    dengan pengalaman2 berbuat baik

  • 3. yudhoyono  |  23 Januari, 2008 pukul 05:29

    Saya mengerti tujuan dari menghabiskan makanan yang ada itu pada dasarnya baik.
    Tapi benarkah cara mengajarakan anak bahwa makanan harus dihabiskan karena banyak orang lain kelaparan?
    Kita tahu bahwa, dengan menghabiskan makanan yang tersedia TIDAK akan membantu/memperbaiki nasib orang yang tidak punya makanan/kelaparan. Bagaimana kedua hal ini bisa berhubungan? Sama sekali irrelevan.
    Menurut saya yg lebih baik yah, menyediakan makanan secukupnya, jangan berlebihan. Memaksa anak menghabiskan makanan juga ada efek buruknya. Ini adalah salah satu yang menyebabkan masalah obesitas di negara berkembang.
    Makan harus tetap sesuai proporsi sehat masing-masing, jangan berlebihan.

  • 4. dodolipet  |  23 Januari, 2008 pukul 10:57

    Pak Yudhoyono, meamng menghabiskan makanan yang tersedia tidak akan membantu nasib orang yang kelaparan. Tetapi memang bukan kita mau memaksa menghabiskan makanan yang terlalu banyak karena kalau sudah tidak kuat juga sulit.

    Tetapi dengan memberi pengertian kepada anak untuk tidak membuang makanan, maka mereka pun akan mengambil makanan sesuai dengan kebutuhannya dan bila mereka sudah komit itu adalah kebutuhan makanan mereka, maka harus mereka habiskan. kalau tidak habis, besok harus berkurang. Dengan begitu lama-lama mereka akan terbiasa menghabiskan porsi mereka yang sesuai.

    Kita dapat beritahu bahwa makanan yang sisa dapat dimakan lagi besok dan bila kita juga memasak sesuai dengan kebutuhan kita, maka bahan baku makanan pun dapat dimakan oleh orang lain yang membutuhkan.

  • 5. ima  |  22 Februari, 2008 pukul 10:34

    betul, saya juga sebel klo liat temen, sodara or siapa aja yang di dekat aq, hbs itu makan n g hbs…coba bayangin klo sebagian orang aja nyisain nasi 10 butir kalo di kali sama setengah penduduk indonesia aja tuh kira2 dah berapa kuintal beras…klo belum dimasak sih masih bisa di sumbangin..tpi klo dah sisa gmn???ironis juga sih padahal indonesia termasuk bukan negara kaya, jgn jauh2 ke etiopia, di dkat2 kita juga banyak kok yang kelaperan..so kita harus belajar empati…

  • 6. Lelo Jose  |  14 Oktober, 2008 pukul 15:50

    Inpirational cases. Let us join our National Greenviart Photofest 2008

  • 7. ferry  |  27 Oktober, 2008 pukul 19:47

    bersyukur adalah kunci yg tepat agar kita mengetahui tiap apa yg kita lakukan….!

    makan g habis tu g bersyukur tw!!!
    sharusnya bersyukur masih bisa makan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,238,239 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 334 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: