Pesan Teh Aja Kalau di Restoran

10 Agustus, 2007 at 22:58 7 komentar

teh

Emang kenapa? Ini hanya pemikiran saja untuk terus dapat mengurangi pemakaian air minum mineral yang pada akhirnya hanya menambah sampah botol plastik tanpa keuntungan kesehatan yang besar dari air mineral.

Coba anda perhatikan kalau anda ke warteg atau restoran. Kalau membuat teh kebanyakan memakai air kran yang dimasak atau bisa juga air dari botol galon yang dididihkan. Saya itu bukannya tidak setuju dengan air mineral tetapi lebih kepada sampah botol plastik yang terus memenuhi jalan, sungai dan laut kita.

Air adalah sesuatu yang sering dianggap remeh dan murah tetapi banyak orang tidak sadar bahwa sebenarnya air mineral itu sangat mahal. Saya pernah tulis di artikel “Jangan biarkan kran menyala sewaktu menggosok gigi.” mengenai fakta dari harga air yang ada disekitar kita seperti dibawah ini:

Harga air dari beberapa penjual air per meter kubik:
1. PDAM: Rp. 4250
2. Terminal air kecil: Rp. 15,000-17,500
3. Terminal air curah: Rp. 10,000 – 15,000
4. Sumur pompa listrik: Rp. 20,000
5. Air mineral isi ulang: Rp. 184,210
6. Air mineral segel: Rp. 447,368

Kebutuhan air rata-rata setiap orang adalah 200 liter per hari atau 0,2 meter kubik.

Kalau satu keluarga memilki 4 anggota keluarga maka:

0,2 meter kubik x 4 orang x 30 hari = 24 meter kubik per bulan.

Dengan Biaya PDAM = 24 x Rp. 4.250 = Rp. 102.000

Biaya air mineral 600 mL di warung = Rp. 2000

Biaya air mineral 600 mL di Carrefour = Rp. 1200

Kalau kita ambil biaya Carrefour maka 1 L = Rp. 2000

Maka dalam sehari kita menghabiskan 200 Liter x Rp. 2000 = Rp. 4oo ribu per hari

Sekeluarga diperlukan 24 meter kubik = 24.000 L x Rp. 2000 = Rp. 4,8 juta per bulan

Jadi terasa besar sekali bukan? Itulah harga dari air mineral yang kita minum sehari-hari. Memang terasa murah karena sekali beli hanya 2000 rupiah. Tetapi kalau mau kita hitung secara kebutuhan, maka air mineral menjadi mahal sekali. Padahal kualitas air PDAM yang sudah dimasak tidak jauh berbeda dengan air mineral. Belum pernah ada dukungan dari penelitian kesehatan yang mengatakan bahwa minum air mineral dapat membuat badan lebih sehat.

Kalau kita mau hitung harga PDAM untuk minum per liter, maka bila per meter kubik adalah Rp. 4250 maka per liter adalah Rp. 4250 / 1000 liter = Rp. 4,25 per liter. Masa kita mau minum air mineral yang harganya Rp. 2000? Bedanya adalah 470.5 kalinya jadi untuk harga yang sama anda bisa minum sampai 470 liter.

Kalau sudah tahu begini, apa tidak lebih baik memasak air saja? Toh kalau dibuat teh rasanya juga tidak akan beda, fungsi kesehatan juga tidak beda. Jadi buat apa beli air mineral? Ada juga akhirnya buang botol plastik sembarangan dan menjadi sampah.

Ayo kurangi pemakaian air mineral, masak air jadi teh, dan bawa botol minum kemana pun terutama di mobil.

Iklan

Entry filed under: Manifesto Hijau.

Pohon di New York 20% Lebih Banyak dari Dekade Lalu Perkembangan Teknologi Air di Negara Tertinggal

7 Komentar Add your own

  • 1. rakhmatp  |  11 Agustus, 2007 pukul 09:53

    pak hitungannya salah tu

    eniwei, mungkin masalahnya ada di pemilik restorannya juga yang ingin mengambil untung dari harga jual air minum kemasan, saat ini saya rasa tidak ada restoran yang menyediakan air putih sebagai minuman , baik itupun berbayar apalagi gratis sedangkan teh tidak semua orang suka , walau menurut saya enak sekali 🙂

  • 2. henz  |  13 Agustus, 2007 pukul 10:47

    Lagipula, kata emakku, teh itu lebih sehat daripada air. Entah deh bener apa nggak. Yang pasti bukan teh yang manis gitu 😀

  • 3. sry prabowo  |  19 Agustus, 2007 pukul 05:14

    bagus tuh, memang jika jangan terlalu banyak mengunakan
    air mineral, dengan begitu pengeluaran untuk air minum bisa ditekan, sangat setuju sekali dengan artekel ini, membiasakan hidup hemat; mecintai lingkungan kita yang makin menghawatirkan.
    bravo

  • 4. Dodot  |  6 Januari, 2008 pukul 22:48

    salah itung 200 liter per hari
    jadi
    2000 Liter x Rp. 2000 = Rp. 4 juta per hari”

  • 5. dodolipet  |  7 Januari, 2008 pukul 12:49

    Trims pak dodot. sudah saya betulkan.

  • 6. Prabowo Murti  |  17 Februari, 2008 pukul 12:43

    Saya biasa menkonsumsi air mineral, yang harganya satu galon (19 liter) = Rp 8800 – Rp 9000. Itu berarti Rp 463,16 – Rp 473,68/ liter (asumsi: isi ulang, biaya untuk pembelian galonnya sendiri sekitar Rp 40.000 ). Atau sama dengan Rp 473.684 untuk 1 meter kubik.

    Memang, memasak dengan menggunakan air PDAM lebih murah. Tapi, mungkin perlu dipertimbangkan hal2 lain seperti biaya masak, waktu, listrik (bila ada) dll. Satu hal, apa kebutuhan 200 liter sehari itu hanya untuk keperluan konsumsi? Kalau begitu, bukankah berarti biaya penghematannya tidak sebesar Rp 4,8 juta? Mengingat jarang ada orang yang mandi dengan menggunakan air mineral.

    Saya sendiri mandi dengan menggunakan air sumur. Otomatis biaya hanya berasal dari listrik dan penyusutan pompa air.

  • 7. budi  |  11 Februari, 2009 pukul 23:41

    Itu bukan hanya airnya, tapi nilai special kenapa air minral jauh lebih mahal dr PAM adalah:
    1. Distribution and Place, lagi piknik ke pantai ga mungkin kita bawa saluran air dr PAM, tapi beli air mineral kemasan.
    2. Value added and keelitan, beda kl kita bawa gelas lalu bawa termos air, ama beli air mineral, apalagi dengan kemasan botol kaca di hotel bintang 5.
    Just 5 cents from me =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,276,955 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 335 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: