Budaya Diam = Kemunduran Tak Berkesudahan

10 April, 2008 at 23:40 8 komentar

Pernah ada suatu penelitian psikologi tentang budaya diam saat melihat suatu kejahatan. Pada saat suatu kejahatan terjadi, bisa jadi kejadian itu sebenarnya dilihat oleh beberapa orang, atau bahkan banyak orang, seperti misalnya pembunuhan di gang sempit yang banyak penduduk di waktu malam. Tetapi sewaktu orang mendengar orang menjerit atau bahkan melihat kejahatan itu terjadi, yang ada dalam benak mereka adalah 1. orang lain pasti melihat, 2. orang lain pasti sudah meminta bantuan, 3. kalau mereka yang lapor malah menyusahkan diri sendiri karena akan diinterogasi. Pada akhirnya, kejahatan tetap terjadi dan penjahat itu terus melakukan hal tersebut karena orang-orang acuh dan diam saja.

Kita tidak usah membandingkan dengan kejadian yang ekstrim yaitu melihat pembunuhan. Tetapi bagaimana kalau hal-hal kecil yang sebenarnya dengan sedikit usaha kita bisa membantu lingkungan kita.

Salah satu contoh adalah kalau kita melihat orang membuang sampah atau puntung rokok sembarangan. Hal ini dilakukan orang hampir setiap orang yang tidak peduli atau tidak mengerti tentang efek jangka panjang dari sampah tersebut, tetapi sebenarnya sadar bahwa hal itu salah. Mereka hanya perlu sedikit teguran atau bahkan sindiran untuk membuang sampah ke tempat yang benar. Dengan teguran, maka mereka pun malu sehingga bisa teringat untuk tidak melakukan lagi (mudah2an).

Adal lagi bangunan yang dingiiiin sekali. *brrrrr*. Harus ada salah satu dari kita yang berani mengungkapkan hal ini kepada manajemen agar AC central terlalu dingin dan diberi pengertian manfaat dari menaikkan temperatur AC. Kadang manajemen gedung pun tidak mengerti bahwa kenaikan 1 derajat saja sudah bisa menghemat hingga 10%.

Bagaimana dengan orang yang suka menyalakan mobil hanya demi agar anaknya bisa disuapi makanan di dalam mobil ber AC? Anaknya enak tetapi orang lain harus menghirup CO2 yang terbuang begitu saja. Apalagi kadang dinyalakan di dalam gedung parkir.

Pasti banyak sekali yang saya belum terpikir. Tetapi paling tidak anda mengerti konsepnya. Jangan hanya diam saja tetapi aktif untuk berani melakukan perubahan dan bicara, bukan hanya jadi penonton dan diam saja karena berbagai alasan. Action anda tersebut bisa memberikan kontribusi yang sangat besar untuk lingkungan.

Ide-ide yang lain dapat dituliskan melalui kolom komentar dibawah untuk saling sharing pengalaman juga. Siapa tahu dengan menyalurkan ide anda disini juga bisa memberi ide untuk orang lain menjalankan sehingga kita bisa memperbesar multiplier effect di masa depan.

Iklan

Entry filed under: Manifesto Hijau.

Jangan telat. Pantang ngebut di jalan. Dengar lagu-lagu gratis lewat Internet. Mengurangi pembelian CD.

8 Komentar Add your own

  • 1. Hoek Soegirang  |  11 April, 2008 pukul 02:08

    “Bagaimana dengan orang yang suka menyalakan mobil hanya demi agar anaknya bisa disuapi makanan di dalam mobil ber AC? Anaknya enak tetapi orang lain harus menghirup CO2 yang terbuang begitu saja. Apalagi kadang dinyalakan di dalam gedung parkir.”
    hoo…saia malah baru tau dan sadar. secara saia ini emang ndak fernah naek mobil, atau ngerti soal mobil……

    budaya diam = budaya modern lho….
    mhuehuehuehue
    diam adalah emas!!! *ditamfar*

    setuju sangadh sama fostingan diatas, sudah seharusnya kita ndak cuma diam, walofun susa sangadh karena “urusan gue urusan gue, urusan loe ya urusan loe!”
    fiuhh…

  • 2. zener  |  11 April, 2008 pukul 09:51

    hai salam kenal

    aku setuju dengan artikelmu. tapi harus disadari bahwa setiap orang itu suka akan hal nyaman bagi orang tersebut tanpa memperdulikan orang lain.

    jika ingin berhasil sepertinya harus dibuat peraturan yang keras seperti di singapura dan memberikan hadiah bagi pelapornya.

    heheheh. enjoy, peace and love

  • 3. Saherman  |  11 April, 2008 pukul 17:10

    Saya pernah menegur orang di dalam angkutan dalam perjalanan pulang ke Cibubur. Saat itu minibus kami sudah di dalam tol, dan saya menegur seorang penumpang yang mencoba membuka jendela di sebelah saya untuk membuang sampah. Saya bilang “jangan pak”, tapi itu orang malah ngeyel. Penumpang lain juga diam saja.

    Syukurnya, setelah saya menegur itu salah seorang penumpang lainnya terlihat membuang sampahnya di dalam kantong yang ia bawa sendiri di tas. Saya sedang tidak membawa kantong sampah saat itu. Si bapak yang saya tegur sudah membuang sampahnya di tol.

    Setiba di rumah istri saya pun mengingatkan, hati-hati menegur orang. Ini di Jakarta, nanti salah salah malah kita celaka. Haduh… saya jadi ingat, di Jakarta ini orang bisa celaka hanya gara-gara menegur.

    Tapi tentu saja kalau cara kita baik mudah-mudahan orang yang kita tegur mau memaklumi. Syukur-syukur ia menjadi sadar.

  • 4. Jiwa Musik  |  11 April, 2008 pukul 23:09

    mungkin teguran dan sindirannya perlu pake lagu, aku lupa judul & penyanyinya, kira2 liriknya:
    mengapa kita diam? mengapa engkau diam? mengapa semua… diam? …. (lupa) Apa perlu kita panggil Bang Ali … Khadafi … Khomeini, dsb (lupa)

    Ada yg masih inget lagu ini?

  • 5. dphy  |  14 April, 2008 pukul 10:14

    nah, maw crita nih..
    saya sering ketemu orang yang buang sampah di tengah jalan..
    pas enak2 nyetir motor, tiba2 mobil dpn buka kaca trus buang sesuatu ( kalo ga pampers bekas pake ya segebog tissue bermuatan minyak tingkat tinggi)… lah, berhubung saya cewek n motor cm kuat lari 60km/jam plus hukum ecodriving, jadi saya cuma nglakson membabi buta, sampe orang di sebelah bengong..
    alhasil nyampe ga yo suara hati saya itu???
    gimana tuh?
    kalo ama Zener yg bilang ttg hukum. bukannya di Indo jg da ada hukuman buat yg buang sampah sembarangan.. lha masalahnya sapa yg peduli? penegak hukum kita blm memadai kalo buat merhatiin masalah begituan?
    ada penegak hukum yg baca ga?
    introspeksi yuukk…

  • 6. Saherman » Blog Archive » Buah dan Bungkus Plastik  |  18 April, 2008 pukul 14:13

    […] tahu, siapa pun bisa menjaga bumi ini tetap lestari, meski hanya sekedar langkah kecil berupa mengingatkan orang lain untuk bijak menggunakan plastik. Post a Comment       Read More […]

  • 7. nadi  |  28 April, 2008 pukul 00:02

    hmmm….negeri ini emang ajaib. komplek saya pusing berat soal sampah. awalnya mau bikin pemilahan dan pengolahan sampah terpadu, biar efisien dan ada nilai ekonomisnya.
    ee…lha dalah kok ya malah dikatain ….wong edan…katanya ngaku pinter kok ngurusin sampah….masya alloh…

    pigimana lg lha wong bedanya pengolahan dan pembuangan aja gak tau. dikasi tau ngeyel, di ajak ke kawasan percontohan hijau gak mau….

    kadang saya berpikir, sepertinya kebanyakan orang kita itu senang buang hajat (buang sampah) di pekarangan orang lain (TPA).

    enak kale ya eek di halaman orang…….

  • 8. Enny  |  29 April, 2008 pukul 16:49

    Kalau kita menegur dengan cara yang sopan dan baik, rasanya yang ditegur juga akan merasa ga enak hati dan mencoba jaga sikap. Pengalaman saya berkali-kali di angkot adalah menegur orang yang merokok. Angkot itu kan sempit, tapi adaaaa aja orang yang merokok (kadang-kadang malah supir angkotnya). Kebayang kan polusinya…… Daripada saya makan hati dan makan asap…. saya tegur baik2, “maaf pak/mas….tolong rokoknya..” Biasanya mereka ngerti, trus rokoknya dimatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,247,388 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 334 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: