Posts filed under ‘Manifesto Hijau’
Cinta Lingkungan Berarti Menghargai Makanan
Baru saja ada artikel di Kompas dengan judul “Hemat Energi, Mulailah dari Menu di Piring“ yang mengatakan bahwa daging bukan saja boros energi tetapi juga bisa menjadi sumber penyakit. Sebelumnya saya juga sempat menulis mengenai “daging ayam yang lebih ramah lingkungan“ dan juga “fakta daging sapi” yang cukup berhubungan dengan artikel ini.
Komentar dari Verena Puspawardani dari WWF mengenai artikel ini adalah yang penting“kalau makan dihabiskan agar sampah organik berkurang. Kalau merasa tidak habis karena porsinya besar, ya ambil porsi secukupnya. Hemat = Seperlunya. Jadi tidak perlu mengambil bagian yang harusnya bisa jadi bagian orang lain.”
Hemat = Seperlunya. Itu adalah slogan lingkungan yang sangat relevan dengan blog ini karena kita walaupun peduli lingkungan tetap mau hidup seperti apa adanya dan tidak perlu susah. Hemat = seperlunya tidak saja untuk makanan tetapi untuk semua konsumsi kita. Salah satu artikel yang nyambung dengan hal ini adalah mengenai “kalau mau menyelamatkan lingkungan, jangan sisakan makanan”
Komentar saya untuk artikel “Hemat Energi, Mulailah dari Menu di Piring”, kita tidak perlu jadi vegetarian untuk mencintai lingkungan dan hemat energi. Kita boleh-boleh saja makan daging, tetapi yang penting adalah, daging yang mana. Kalau saya, daging ayam dan ikan adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan daging sapi. Takut flu burung? Takut ayam pakai hormon? Baca artikel ini “Daging ayam pakai hormon, fakta atau mitos?”
Pada akhirnya, cinta lingkungan berarti menghargai makanan dan tetap hidup normal, tetap makan daging (walaupun dikurangi pun ok), dan menghabiskan apa yang ada di piring kita.
Demo Hijau Dong!!
Dengan adanya rencana pemerintah untuk menaikkan BBM, maka demo pun mulai marak lagi terutama di ibukota Jakarta. Para pendemo ini ceritanya selalu menginginkan perubahan dari pemerintah, mengutarakan keinginan rakyat, dan lain-lain. Saya suka sebal juga kalau demo malah bikin macet. Tapi bukan itu saja ulah mereka yang katanya lebih memiliki pola pikir yang berbeda, maju, modern, dan bisa dibilang anak sekolahan karena banyak dari pendemo adalah mahasiswa.
Saya bukannya anti-demo. Demo adalah salah satu bentuk wujud demokrasi di Indonesia dimana rakyat memberikan suaranya kepada pemerintah.
Tapi coba perhatikan deh cara-cara demo. Ada yang memakai spanduk, selebaran, pamflet, stiker, sampai karton dan kayu yang ditulisi macam-macam dan yang paing parah membakar ban. Apalagi setelah demo selesai. Bukannya masalah selesai malah membuat masalah baru karena para pendemo dengan seenaknya membuang sampah sembarangan mulai dari bekas selebaran yang asal dibuang, kantong plastik bekas minum, botol air mineral, permen, dan lain-lain. Memang yang senang sih para pemulung, tetapi anak sekolahan yang katanya berilmu tinggi dan jago cuap-cuap malah tidak introspeksi diri untuk berubah dulu dari hal yang kecil, yaitu membuang sampah dengan benar. Katanya yang suka demo itu berarti aktif di kampus, kritis ke masalah-masalah negara, membela masyarakat, dan mungkin cita-citanya jadi politisi. Bagaimana politisi kita bisa pada bener kalau baru demo saja sudah asal buang sampah. Itu namanya bibit politisi yang tidak tahu aturan, tidak introspeksi diri dan tidak memberi contoh yang baik. (lebih…)
Pertumbuhan Penduduk: Ancaman Terbesar Masalah Lingkungan

“We must alert and organise the world’s people to pressure world leaders to take specific steps to solve the two root causes of our environmental crises – exploding population growth and wasteful consumption of irreplaceable resources. Overconsumption and overpopulation underlie every environmental problem we face today.”
Jacques-Yves Cousteau
Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup. Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.
Antara 1960 dan 1999, populasi bumi berlipat ganda dari 3 milyar menjadi 6 milyar orang. Pada tahun 2000 populasi sudah menjadi 6.1 milyar. PBB memprediksi bahwa populasi dunia pada tahun 2050 akan mencapai antara 7.9 milyar sampai 10.9 milyar, tergantung ada apa yang kita lakukan sekarang. Dapatkah anda bayangkan berapa banyak bahan pangan, lahan untuk pertanian, lahan untuk perumahan, dan barang konsumsi lainnya yang dibutuhkan oleh penduduk yang begitu banyak? (lebih…)
Budaya Diam = Kemunduran Tak Berkesudahan
Pernah ada suatu penelitian psikologi tentang budaya diam saat melihat suatu kejahatan. Pada saat suatu kejahatan terjadi, bisa jadi kejadian itu sebenarnya dilihat oleh beberapa orang, atau bahkan banyak orang, seperti misalnya pembunuhan di gang sempit yang banyak penduduk di waktu malam. Tetapi sewaktu orang mendengar orang menjerit atau bahkan melihat kejahatan itu terjadi, yang ada dalam benak mereka adalah 1. orang lain pasti melihat, 2. orang lain pasti sudah meminta bantuan, 3. kalau mereka yang lapor malah menyusahkan diri sendiri karena akan diinterogasi. Pada akhirnya, kejahatan tetap terjadi dan penjahat itu terus melakukan hal tersebut karena orang-orang acuh dan diam saja.
Kita tidak usah membandingkan dengan kejadian yang ekstrim yaitu melihat pembunuhan. Tetapi bagaimana kalau hal-hal kecil yang sebenarnya dengan sedikit usaha kita bisa membantu lingkungan kita. (lebih…)
100.000
Sulit dipercaya bahwa pembaca blog ini sudah mencapai lebih dari 100.000 padahal blog ini membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai angka 50.000. Sekarang dalam kurun waktu hanya 3 bulan lebih 1 minggu sudah bisa menggandakan angka tersebut.
Tentunya semua ini berkat bantuan, komentar, blogroll, words-0f-mouth, resensi, liputan, email links, dan lain-lainnya dari semua pembaca sehingga membantu semakin banyak orang mengenal blog ini.
Blog ini pasti masih memiliki banyak kekurangan, bahkan tak jarang tidak ada artikel baru dalam beberapa hari (atau minggu 🙂 ) Tetapi saya sangat senang dengan semua pembaca yang tentunya juga aktif memberikan komentar dengan kritik-kritik yang membangun, memperbaiki kesalahan artikel, ataupun menambah informasi baru sehingga komunitas blog ini bisa terbentuk dengan sendirinya.
Untuk itu, saya sungguh berterima kasih kepada semua pembaca yang sudah dengan setia membaca artikel-artikel yang saya tulis. Padahal saya bukan penulis dan pastinya secara EYD mungkin banyak salah (maaf ya).
Mudah-mudahan dengan dukungan anda semua blog Aku Ingin Hijau bisa terus memberikan informasi dan inspirasi untuk melestarikan lingkungan kita ini.
Salam,
Michael Dharmawan
Umbi-umbian, alternatif beras yang baik dan berlimpah
Akhir-akhir ini, terutama setelah mantan presiden Soeharto meninggal banyak orang yang mengingat, melihat melalui TV dan juga memberi komentar soal swasembada beras di jamannya. Kita melihat ironi bahwa kita harus mengimpor beras dari negara-negara tetangga dimana dulu mungkin mengimpor dari kita. Negara kita sebagai penghasil beras no. 3 di dunia dan juga memiliki lahan yang cocok untuk menanam padi sangatlah terbelakang di bidang teknologi benih dan juga teknologi pembantu seperti alat-alat pertanian yang dapat dijangkau masyarakat luas. Saya pun masih banyak sekali melihat orang membajak sawah dengan mesin manual alias sudah maju sedikit dari memakai kerbau tetapi tetap saja pakai tenaga manusia.
Untuk saat ini swasembada terlihat sulit dicapai apalagi dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan lahan persawahan yang semakin lama semakin sedikit karena terus dijual oleh masyarakat. Bagi mereka lebih mudah menjual sawah warisan keluarga mereka dibandingkan bercocok tanam yang hasilnya tidak seberapa. Disini pun yang jadi masalah adalah warisan keluarga. Tanah 1 Ha dengan anak 5 akhirnya dibagi-bagi dan semakin kecil lahan akan semakin tidak efisien dan produktif. Ujung-ujungnya margin atau keuntungan dari bercocok tanam pun semakin sedikit karena ketidakefisienan itu.
Solusinya? Bagaimana kalau setiap keluarga makan umbi-umbian 1 kali saja per minggu. (lebih…)
BARU: Milis Aku Ingin Hijau – Ayo daftarkan diri anda
Untuk memberikan kemudahan bagi pembaca untuk menerima artikel terbaru, membagi pengalaman, cerita, berita dan juga berkomunikasi dengan anggota lainnya, maka milis Aku Ingin Hijau diharapkan dapat membantu.
Untuk menjadi anggota maka anda dapat email ke: akuinginhijau-subscribe@yahoogroups.com
Bila anda sudah menjadi anggota dan ingin mengulas suatu masalah, bertanya ataupun ingin berbagi cerita maka anda dapat layangkan email ke akuinginhijau@yahoogroups.com
Ayo daftar rame-rame, dan jangan lupa beritahu juga teman-teman dan saudara anda.
1 Tahun ‘Aku Ingin Hijau’
1 tahun sudah saya mencoba menulis hal-hal yang saya lihat, rasakan dan ingin saya bagi kepada banyak orang untuk menuju lingkungan yang lebih baik.Saya pun jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya menjadi pemikiran pertama untuk menulis blog. Kalau ada orang yang tanya, biasa saya akan bilang pertama karena saya ingin belajar menulis dengan lebih baik dan kebetulan senang dengan topik lingkungan maka itulah yang saya pilih sebagai topik blog ini.Tetapi saya selalu merasa ada hal lain pada saat pertama kali saya berpikir untuk menulis yang menjadi ciri utama dari penulisan blog ini yaitu memfokuskan diri pada perubahan kecil yang dapat dilakukan oleh semua orang, tanpa membedakan siapa pun. (lebih…)

















Komentar Terbaru