Biofuel dalam kartun

Jangan cuma lihat hasilnya saja, lihat proses penanaman dan produksinya juga. Ethanol bukan hanya dari jagung, kebetulan Amerika memiliki lahan jagung yang berkelebihan, walau sekarang antara kebutuhan makanan dan ethanol sudah mulai bersaing. Di Indonesia ethanol dibuat dengan bahan dasar tebu dan singkong. Ini pun merupakan bahan makanan kita sehari-hari. Padahal bila dibandingkan dengan pemakaian BBM, persentasenya juga sangat kecil, tapi malah menyulitkan masyarakat dengan naiknya harga.
Sekarang hampir setiap hari koran memberi berita kenaikan harga minyak goreng, kenaikan harga CPO, ingin adanya kenaikan pajak CPO untuk export dan sebagainya. Ini adalah hasil dari tren masyarakat dan politisi yang ingin “kelihatan” cinta lingkungan padahal malah merusak (lihat artikel blog saya sebelumnya). Padahal minyak goreng itu adalah kebutuhan sehari-hari. Apa kita mau kalau makan tempe atau tahu goreng yang jadi mahal? Atau karena tingginya harga minyak goreng, maka para pedagang pun malah memakai minyak goreng berkali-kali melebihi biasanya, atau membeli minyak bekas yang sudah sangat tidak sehat?
Lebih baik kita mulai menggunakan alternatif lain untuk transportasi. Jalan kaki, naik sepeda, naik busway, nebeng teman, nebeng tetangga. Jangan manja memakai kendaraan ke tempat-tempat yang dekat.
Lihat artikel lain yang berhubungan:
– Biodiesel: Solusi atau Problem
– Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Biodiesel
Menanam Sepeda, Menghijaukan Jakarta
Disadur dari milis b2w-Indonesia
Posted by:”Si Bule” novizal_sg
Tue May 1, 2007 7:33 pm (PST)
Beruntung kata “hijau” dalam bahasa Indonesia ada tiga arti: (1)
warnanya hijau; (2) ramah lingkungan; (3) banyak uang!! (perhatian:
arti ‘hijau’ jauh berbeda dengan kamus besar bahasa Indonesia punya
Pak WJS Poerwodarminto)
Nah saya mau sedikit memoles opini atas arti yang kedua dan ketiga
yang dipadu-padankan dengan alat transportasi sepeda dan sedikit
gelitik untuk para pejabat untuk mengusahakan jalur sepeda.
Lebih tegasnya, apa sih yang bisa diperoleh buat para penghuni
jabodetabek, para pe-bisnis dan juga para pejabat dalam memajukan
persepedaan di tanah air – khususnya membuat jalur sepeda di Jakarta. (lebih…)
Dilema penghematan energi…
Kita sudah mungkin dengan setiap hari tentang penghematan ini dan itu. Mulai dari kampanye PLN “hemat energi hemat biaya” sampai kampanye internasional juga. Dari semua itu memang sedikit demi sedikit akan banyak orang yang sadar akan perlunya penghematan energi. Mereka pun mulai dari yang paling mudah, dari mematikan lampu saat tidak dipakai, tidak memakai AC terlalu lama, dll. Perangkat serta alat-alat rumah tangga pun semakin canggih dan hemat energi.
Masalahnya adalah taraf kehidupan kita yang meningkat sesuai dengan peningkatan pemasukan uang. Mungkin kita sekarang mematikan lampu sewaktu tidak perlu ataupun sudah membeli barang yang hemat energi. Tetapi kita juga sekarang memakai minimal 1 buah hp, lalu juga memiliki laptop dan iPod yang perlu dicharge. 5-10 tahun lalu itu semua mungkin barang langka. AC sekarang juga semakin hemat energi dan murah. Karena itu kita juga malah memasang AC dimana-mana, ditempat yang jarang dipakai juga. Akhirnya pengeluaran malah lebih banyak. Jadi taraf hidup yang semakin tinggi akan memerluakan energi yang lebih tinggi lagi.
Dari semua itu, PLN harus selalu membuat pembangkit baru seiring dengan pertumbuhan penduduk karena kekurangan energi. Tetapi tender pembuatan pembangkit itu kebanyakan membuat perusahaan dengan proposal harga terendah menang. Padahal proposal yang paling murah itu bisa jadi yang paling kotor.
Dari semua ini, kita harus menunggu inovasi mutakhir yang dapat membantu lingkungan. Teknologi pembangkit batu bara yang bersih sudah dimulai walaupun masih terlalu mahal dan dalam tahap pengembangan. Teknologi pembersihan CO2 hasil dari pembakaran batubara juga sudah dimulai. Pertumbuhan pemakaian alat pembangkit dengan tenaga surya serta angin serta tenaga panas bumi pun mulai marak di dunia barat. Inilah yang akan membantu kita mengurangi pemanasan global dengan cepat. Tetapi memang semua ini adalah solusi mahal. Banyak dari alat tersebut belum terjangkau untuk kisaran populasi di Indonesia, ataupun cost-benefit yang belum seimbang dibandingkan dengan di dunia barat.
Dunia bisnis pun selalu berdilema dengan penghematan energi serta cost-benefit yang dikeluarkan, serta bila produk harus dirubah mulai dari bahan serta formulanya untuk memenuhi requirement dari dunia untuk mencegah pemanasan global. Apalagi untuk perusahaan menggunakan batubara adalah cara yang termurah saat ini untuk menghasilkan energi. hanya sepersepuluh dari BBM loh.
Jadi bagaimana dengan konservasi energi kita? Kita harus tetap menghemat! itu pasti. Tetapi kita juga mengharapkan kontribusi dari saudara-saudara kita yang lebih berkecukupan untuk lebih ikut serta dengan memulai penggunaan teknologi energi alternatif seperti tenaga surya dan angin yang mudah dipakai dirumah. Lebih dari itu, kita juga mengharapkan pebisnis untuk juga memikirkan cara untuk ikut membantu lingkungan kita.
Perangkap nyamuk ultraviolet ternyata murah dan efektif
Saya dan bahkan kebanyakan orang sudah tahu banyak dijual perangkap nyamuk elektronik dengan ultraviolet. Saya dari dulu agak skeptis akan efektifitasnya. Tetapi sejak minggu lalu saya mencobanya dan ternyata bekerja dengan baik serta berguna. Rahasianya adalah, dari dulu kita coba untuk pakai di dalam ruangan/indoor, tapi tidak efektif. Setelah kita coba untuk ditaruh di luar rumah/outdoor seperti di teras, wah… setiap pagi panen banyak sekali. Lebih dari itu, pemakaian energi pun sangat rendah. Kita bisa pilih perangkap nyamuk mulai dari 5 watt – 15 watt.
Perhitungan 5 watt untuk setiap bulannya adalah:
8 jam x 5 watt = 40 watt hour per hari
40 watt hour x 30 hari = 1200 watt hour ~ 1,2 Kwh
Maka perhitungan per bulan menjadi
1,2 Kwh x Rp. 1000 = Rp. 1200 rupiah per bulan!
Kalau kita mau bandingkan dengan semprotan nyamuk biasa, ini adalah penghematan yang cukup banyak dan tidak berbahaya bagi kesehatan serta tidak polusi bahan-bahan kimia dari semprotan nyamuk lainnya. Kalau kita nyalakan ini setiap hari, walhasil populasi nyamuk di sekitar rumah pun dapat menurun. Bila kita tularkan ini ke para tetangga, mudah-mudahan hal ini dapat mencegah bahaya demam berdarah.
Hal ini tentunya harus tetap disertai dengan gerakan program 3M (menguras, menutup dan menimbun) serta fogging dari lingkungan masing-masing. Untuk indoor, anda bisa tetap memakai Raket Nyamuk yang juga efektif, tanpa polusi dan mengolah raga juga 🙂
Gengsi naik sepeda? Coba pikir sekali lagi.
Akhir pekan lalu saya berkesempatan pergi ke Kepulauan Riau, yaitu pulau Batam, Bintan dan Singkep. Perjalanan dari Jakarta harus lewat Batam lalu naik ferry ke Tanjung Pinang selama hampir 1.5 jam. Luas kota Tanjung Pinang adalah 139.5 Km2 dengan jumlah penduduk 176 ribu orang. Luas itupun sudah termasuk jalan-jalan sepi diluar pusat kota. Bila kita berbicara pusat kota dimana kebanyakan orang tinggal, maka kemana-mana bisa ditempuh 5-10 menit berjalan kaki atau berkendara. Yang sangat terasa disana adalah banyaknya mobil dan terutama motor. Hampir semua orang menggunakan motor bebek walaupun kemana-mana cukup terjangkau. Saya pun berkesempatan untuk pergi ke kota Dabo di pulau Singkep dengan penduduk hanya 39 ribu orang. Disini pemandangan pun sama dengan maraknya sepeda motor dimana-mana.
Mungkin hal ini terjadi diseluruh Indonesia, dimana tren untuk naik motor itu adalah gengsi tersendiri. Tapi apa betul akan lebih baik? Untuk kota yang cukup kecil bersepeda dan berjalan kaki adalah pilihan terbaik karena terjangkau dan memudahkan orang untuk kemana-mana, apalagi kota kecil itu tidak sepolusi kota Jakarta atau kota besar lainnya. Di kota besar itupun sudah mulai ada gerakan Bike To Work, dimana orang memakai sepeda untuk ke kantor. Mengapa tidak di kota kecil yang lain yang lebih masuk akal untuk memakai sepeda. Di Amsterdam, 40% orang menggunakan sepeda. Di Beijing, China, saja ada 4 juta sepeda dengan total sepeda seluruh china sekitar 500 juta sepeda. Di Jepang juga ada lebih dari 80 juta sepeda yang mengakomodasi 17% komuter yang lalu naik subway. Di New York, 21% orang berjalan kaki atau naik sepeda. List ini terus bertambah karena setiap kota akan ada inisiatif dari pemerintahnya (Kecuali Indonesia tentunya)
Mau tahu perbandingannya dengan memakai mobil? (lebih…)
Krisis Jagung! Inflasi besar sudah semakin dekat…

Kompas hari ini ada artikel “Harga Pakan Terus Naik, Peternak Unggas terancam gulung tikar”. Saya sudah sebutkan sebelumnya bahwa keadaan komoditi yang terus naik akan sangat memprihatinkan untuk masyarakat. Disebutkan bahwa harga jagung internasional telah naik 80% selama setahun dari 130 dolar amerika menjadi 235 dolar amerika. Sudah dipastikan bahwa bila harga jagung, yang menjadi 50% bahan dasar pembuatan pakan akan menaikkan harga pakan tersebut, dimana karena harga jual ayam tidak dapat naik, maka merekapun tidak sanggup untuk membeli pakan tersebut. Bila petani juga banyak yang gulung tikar, berkurangnya supply ayam dipasaran pun akan menaikkan harga.
Kita harus dapat memperbanyak produksi jagung lokal untuk dapat mengurangi import jadung kita yang sangat besar. Kita harus dapat mencontoh Kabupaten Gorontalo yang telah sukses memproduksi jagung secara professional.
Ini bukan di Indonesia saja. Jepang pun sudah kewalahan. Mereka mengimpor 16 juta ton jagung, yang 95% dari Amerika. 75% mereka pakai untuk pakan. Ini sudah menjadi wabah global. Kita harus stop pemakaian jagung untuk ethanol. Presiden Amerika George Bush menginginkan pengurangan beban terhadap BBM sehingga dia mengatakan untuk menaikkan produksi ethanol 7 kali lipat dalam 10 tahun mendatang. Jangankan pakan, minuman soda pun memakai pemanis dengan bahan dasar jagung, jadi harga Coca-cola, pepsi dan semua minuman itu juga akan naik.
Ini beberapa contoh kejadian di seluruh dunia:
– Meksiko: harga tortilla naik 60%
– China: harga daging babi naik 20% dan telur telah naik 16%
– India: harga makanan secara umum naik 10%
Secara umum, inilah gambaran persentase input jagung dengan harga yang dibayar oleh konsumen
– Cereal dan biskuit: 4% dari harga yang dibayar oleh konsumen
– Daging sapi: 48% dari harga yang dibayar oleh konsumen
– Daging babi: 27% dari harga yang dibayar oleh konsumen
– Daging ayam: 50% dari harga yang dibayar oleh konsumen
– Produk dari susu/keju: 38% dari harga yang dibayar oleh konsumen
– Minyak: 15% dari harga yang dibayar oleh konsumen
Bagaimana dengan Indonesia nanti? Sudah begitu banyak orang yang kesulitan membeli makanan yang baik dan bergizi. Bila hal ini terjadi, maka dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi.
Fakta Energi Indonesia! Jangan kira kita begitu kaya akan sumber daya.
Indonesia sering disebut sebagai negara kaya akan sumber daya. Memang pada saat ini untuk export batubara dunia saja kita telah melewati Australia sebagai exporter batubara no. 1 di dunia. Lumayan, kadang kita jarang mendapat juara. Tapi ini karena 75% dari produksi dalam negeri kita export. Kita adalah produsen batubara no.4 setelah China, India dan Afrika Selatan. Walaupun total cadangan batubara kita sekarang kira-kira 5 milyar ton, itu sebenarnya hanya 3.1% dari total cadangan dunia. Kalau kita bilang kita adaah juara, kita memang juara dibodohi oleh orang luar negeri. Mereka menyimpan cadangan mereka selama mungkin sampai cadangan kita habis dan harus mau tidak mau membeli dari mereka. Itu sama saja dengan dijajah kembali!!
Bagaimana kita bisa dijajah? kalau kita lihat, 87% pembangkit tenaga kita berasal dari pembangkit yang menggunakan minyak, gas dan batu bara. Hanya 10.5% dari tenaga air dan 2.5% dari geothermal.
Padahal, cadangan minyak kita dibandingkan cadangan dunia hanya 0.6%, cadangan gas hanya 1.6% dan again, cadangan batubara hanya 3.1%.
Kalau hal ini terus terjadi, yaitu ketergantungan dengan minyak, gas dan batubara, ke masa mendatang, maka suatu hari kita akan benar-benar kehabisan sumber daya dan harus membeli semua dari luar negeri. Benar-benar penjajahan secara halus yang sedang dilakukan.
Jadi kita sebenarnya kaya sumber daya atau tidak? Tentu saja kaya.
Sumber daya panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai 20,000 MW atau setara dengan 40% dari total geothermal dunia. Kita baru mendayagunakan kira-kira 5% saja dari total potensinya. Kemampuan sumber daya air kita untuk membuat PLTA atau PLTM (pembangkit listrik tenaga mini-hydro) mencapai 75,000 MW. Selanjutnya, sumber daya matahari kita pun cukup baik dengan rata-rata 4.8 kWh/m2.
Bila kita bandingkan dengan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar minyak, maka untuk setiap 1MW yang dihasilkan oleh pembangkit dengan tenaga terbarukan dapat menghemat 10 milyar rupiah pembelian BBM.
Inilah faktanya. Apakah kita akan terus menjual hasil alam kita dan mengorbankan masa depan anak cucu kita? Atau kita juga dapat mulai menghemat dan mencari alternatif untuk kebutuhan energi kita.
New York akan menambah 1 juta pohon hingga tahun 2017. Bagaimana dengan Jakarta?
Berita terbaru dari kota New York adalah Walikota Michael Bloomberg akan menanam 1 juta pohon hingga tahun 2017 untuk mengurangi polusi udara, mendinginkan temperatur dan membantu tata kota yang baik. Walikota Bloomberg ingin mengurangi emisi karbon hingga 30% dalam 2 dekade mendatang. Saat ini New York sudah memiliki ruang hijau sebanyak 24%, atau memiliki 5.2. juta pohon.
Bandingkan ini dengan Jakarta. Ruang terbuka hijau yang di-“rencanakan” sebanyak 25% hanya terealisasi sebanyak 9%. Kota Malang di Jawa Timur malah hanya memiliki RTH sebanyak 4%. Hal inilah yang selalu menimbulkan masalah dan bukan hanya polusi dan kesehatan masyarakat saja, akan tetapi turunnya tanah karena kurangnya air resapan, banjir yang selalu datang setiap tahun, dan juga kualitas air tanah yang semakin jelek.
Memang kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi peraturan pemerintah yang tidak dijalankan, seperti dipakainya jalur hijau dan tanah pemerintah untuk pemukiman liar, tapi setiap orang dapat membantu dengan menanam pohon sebanyak mungkin di rumah mereka masing-masing. Tanaman sangat kita butuhkan sebagai paru-paru kota bukan saja untuk menguragi polusi tapi juga untuk menyerap air ke dalam tanah untuk keseimbangan alam.
Berita terakhir tgl 18 April 2007 menyebutkan bahwa Pemkot Jaksel akan menambah ruang terbuka hijau (RTH) sebanyak 4300 meter persegi. Hal ini patut kita dukung bersama-sama dan berharap bahwa setiap Pemkot di setiap kota di Indonesia akan juga ikut mengembangkan program yang sama.
Kota yang bersih dan nyaman akan memberikan rakyat kualitas hidup yang lebih baik.



















Komentar Terbaru