Apalagi solusi banjir kita? Yuk kita bikin sendiri Tong Penangkap Air Hujan.

14 Mei, 2007 at 17:22 17 komentar

Tong Air Hujan

Gara-gara banjir kemarin semua orang saling cari ide untuk pengurangan banjir. Mulai dari penerusan proyek banjir kanal, pembuatan penangkap air hujan raksasa dalam bawah tanah (deep tunnel) sampai biopori dari IPB.

Orang jaman dahulu sebenarnya juga sudah menyadari pentingnya penampungan air hujan, dan hampir semua orang memiliki drum atau tong penangkap air hujan. Sekarang tanah di Jakarta, khususnya di Jakarta Pusat mulai turun sedikit demi sedikit karena kurangnya penahanan tanah akibat dari air yang selalu tersedot dan tidak ada resapan. Bila diteruskan maka gedung-gedung bertingkat di Jl. Sudirman dan sekitarnya bisa roboh kapan saja. Memang gedung-gedung tersebut juga yang menjadi masalah. Mereka mengambil begitu banyak air dan sangat kencang tanpa melakukan regenerasi resapan air dengan sumur resapan yang cukup dan lainnya. Apalagi sekarang tren apartemen di pusat kota semakin menjamur. Bisa dibayangkan apartemen 30 lantai menyedot berapa banyak air.

Lihat keuntungan dan cara pembuatannya lebih lanjut.

Kembali ke tong penangkap air hujan. Air hujan itu adalah air yang lebih halus daripada air PAM biasanya dan juga tidak menggunakan klorin dan obat kimia lainnya. Karena itu tanaman pun lebih menerima air hujan dengan baik dibandingkan menyiram dengan air PAM. Makanya kalau diperhatikan, tanaman lebih kelihatan segar setelah tersiram air hujan.

Kalau kita hitung secara kuantitatif akan sebagai berikut:

Setiap 1 cm curah hujan yang jatuh di area sebesar 40 meter persegi bisa mendapatkan air hujan sebesar 900 liter atau 237 galon air.
Bila luas atap rumah kita sebesar 100 meter persegi (atau 2.5×40 meter persegi) maka kita bisa dapatkan air hujan sebanyak 900 x 2.5 = 2250 liter air hujan untuk setiap 1 cm curah hujan

Rata-rata curah air hujan di Jakarta adalah 242 cm per tahun.
Jadi per tahunnya kita bisa menangkap air hujan sebanyak 242 x 2250 yaitu = 544500 liter air hanya dari rumah kita saja. (sama dengan 143,800 galon air). Kalau air galonan kita hargakan 1000 rupiah saja, kita sudah menghemat 143 Juta rupiah.

Kalau hal ini kita implementasikan pembuatan tong penangkap air hujan ke 1 juta rumah di Jakarta, maka saya yakin kita bisa mengurangi banjir secara drastis. Anggap saja kita menggunakan tong yang sebesar 50 galon. Maka itupun sudah 50 juta galon air yang tidak ikut ke saluran got kita. Kalau setiap rumah bisa menghitung keperluannya secara maksimal, maka hasilnya akan lebih baik lagi.

Kita bisa taruh 1 tong penangkap air hujan di depan rumah dan 1 di belakang. Peletakan lebih baik agak diatas supaya kalau mau dipakai selang untuk menyiram tanaman air akan lebih mudah mengalir.

Buat Tong Sendiri

Cara membuat Tong Penangkap Air Hujan sangat mudah.

  1. Beli tong yang agak besar, lebih baik yang ada tutupnya.
  2. Buat lubang dekat dengan dasar tong, tapi jangan terlalu bawah
  3. Panaskan dengan hair dryer sebentar (agar plastik menjadi agak lunak) sebelum memasang keran bawah
  4. Buat lubang di bagian atas secukupnya agar lubang talang bisa masuk ke dalam tong
  5. Untuk aksesoris lainnya seperti filter atas tong dan lainnya lihat gambar.

Aksesoris Tong Penangkap Air Hujan

Kalau Tong terasa kekecilan, tong tersebut bisa saling di koneksi dengan selang seperti pada gambar.

Konek 2 tong

Semoga dengan langkah kecil ini kita bisa mengurangi banjir dan tentunya menghemat penggunaan air dan ikut melestarikan lingkungan.

Iklan

Entry filed under: Fakta Lingkungan, Lingkungan Rumah, Manifesto Hijau, Tanaman Bermanfaat. Tags: , , , .

Olahraga sehat yang ramah lingkungan Ke Beijing dan Shanghai sampai tgl 21 Mei 2007

17 Komentar Add your own

  • 1. didi  |  25 September, 2007 pukul 21:28

    gue mo nanya gimana cara buat bio gas

  • 2. nuar  |  14 November, 2007 pukul 17:23

    bisa minta gambar yg lebih besar?
    thx

  • 3. Abimanyu  |  8 Desember, 2007 pukul 02:38

    sip!!!
    tapi.. penangkap air hujan ->akan berfungsi klo ada hujan -> berarti musim penghujan -> berarti tanaman dipekarangan g perlu disiram donk… trus air hujan kan kandungan asamnya tinggi.. gimana menyiasatinya?? kasih kapur??

    klo untuk rumah tinggal cukuplah 1-2 tong… klo apartemen?? trus mau ditaruh dimana?? apa tidak mengganggu?? trus kalo ditaruh dibangunan… harus memperhatikan konstruksinya.. kuat apa enggak… gak lucu klo gedung roboh gara2 mau nangkap air hujan… (1 liter air hujan -+ 1 kilogram kan??)

    klo rumah tinggal buat aja sumur peresapan air hujan.. biar air hujan gak langsung masuk ke riol kota… klo utk gedung tinggi.. harus disuntik hingga jauh kedalam tanah… karena air tanah bisa merusak pondasi…

    thanks…

  • 4. energiborneo  |  8 Desember, 2007 pukul 22:16

    He..he… komentarnya ada nyang lucu…. masa mikirnya sampe ke apartemen segala… hahahahahaa…
    Menurut saya, yang terpenting adalah melakukan hal baik dengan segera…. sekecil apapun itu… Kalo harus nunggu jawaban bagaimana kalo apartemen, sebesar apa tong penampungnya, apa tidak mengganggu pemandangan….. wah! kadung ketinggalan kereta!!!!!
    Mendingan mana… liat pemandangan banjir ataw tong air yang menumpuk….. Lebih berguna mana antara BANJIR dan TONG kusam yang menampung air hujan?
    Pertanyaan ini gak perlu dijawab bagi yang selalu berpikiran pesimistis… TENGKIYUUUUU

  • 5. andri  |  13 Desember, 2007 pukul 16:49

    Teknik Biopori itu hasil karya Bapak Prof. Khamir dari IPB bukan? Sekedar ralat, karena di artikel ditulis dari ITB.

  • 6. dodolipet  |  13 Desember, 2007 pukul 20:55

    Aduh. thanks banget Andri. Saya salah tulis. Sudah langsung saya rubah.

  • 7. thukul  |  8 Januari, 2008 pukul 20:32

    gw mau beli tong itu, ada yg jual ga?
    dan gw mau nanya, apakah produk2 yang ada di artikel2 ini di produksi atau ngga?

  • 8. niky 13thn  |  1 Februari, 2008 pukul 12:20

    say sih mau saja tapi apa bisa

  • 9. Prabowo Murti  |  17 Februari, 2008 pukul 17:42

    Hm.. Sepertinya air menjadi masalah yang pelik di hampir setiap kota besar ya? Di tempat saya, di Kalimantan Barat, selain menggunakan tempat penampungan yang terletak (kebanyakan) di atas ketinggian normal, banyak orang (termasuk Ayah) yang membuat tempat menyimpan air di bawah tanah. Biasanya dibangun ketika membangun pondasi rumah. Ukurannya beragam, tapi kira-kira bisa 3×4 m2 dengan kedalaman setinggi orang dewasa (1-2m). Mirip bunker, cuma isinya hanya air.

    Kalau sedang musim kering, sangat bermanfaat. Apalagi kalau terjadi perbedaan yang ekstrim antara musim penghujan dan kemarau. Oia, “bunker” tadi disertai tutup berukuran 50cmx50cm, jadi kalau mau ambil air tutupnya dibuka-tutup. Agak merepotkan memang, tapi mungkin bisa disiasati dengan pompa air.

    Salah seorang teman saya, yang berasal dari pulau Jawa, sempat kebingungan. “Buat apa??” tanyanya. “Yaa… Buat nyimpen aer…..” 😀

  • 10. meichael  |  7 Maret, 2008 pukul 14:36

    saya sangat tertarik dengan produk ini,, kebetulan ingin saya terapkan pada desain rumah tinggal yang saya sedang kerjakan..dengan cara apa saya bisa berkonsultasi dengan ahlinya..mungkin bisa lewat telpon…

  • 11. titah  |  19 Maret, 2008 pukul 14:22

    ass…
    saya cm mo komentar aja…
    smoga cr ini bisa ngurangin banjir n berguna aja buat masyarakat yg lg ngalamin kebanjiran…n smoga nilai saya baguz jg d dah masukinangkat topik ini
    wasalam…

  • 12. jhaysumirat  |  21 Januari, 2009 pukul 14:23

    terima kasih mas info tentang lingkungannya, semoga mas terus giat dalam mengkapanyekan lingkungan yang sehat dan aman

  • 13. gresia  |  29 Juli, 2009 pukul 16:48

    iya…….w jga tau kalo lingkungan jga indah bgt and manizz kaya face w………he……..he

  • 14. HAns fernanDO...  |  29 Juli, 2009 pukul 16:51

    EH,,, LINGKUNGAN DI SCHOOL W JGA INDAH LOCH , KAYA DI PEGUNUNGAN GITU LOCH??? GMNA SICH SCHOOL INTERNATIONAL YAITU PD……………TEBAK AJA SENDIRI?

  • 15. mimin  |  21 Agustus, 2009 pukul 14:22

    terima kasih mas infonya, akan langsung sya coba di rumah.
    Mungkin mau nyari tongnya dlu..

  • 16. david s t  |  9 Oktober, 2011 pukul 03:34

    bagaimana kalau langsung disalurkan ke taman, tanah nya bisa langsung menyerap air kan?

  • 17. nur aslidawati (ida)  |  2 Juli, 2012 pukul 22:44

    ass, sy tinggal di gang manggis kebayoran baru jak sel kira2 100 mtr dr sumber jaringan pam. sy mau pasang pam , sdh beberapa kali sy minta utk dipasang. maksudnya utk mengurangi pemakaian air sumur. tp tidak bisa krn tidak ada jaringan, ygboleh hanya 6 mtr dr sumber. sy bisa pasang asal min 10 org. tp rasanya tdk mungkin krn org2 belum merasa butuh dgn pam krn sumber air masih bagus banget. kl sy mau pasang sendiri biayanya 60 jt?????
    kira2 dgn kondisi sprt ini apa yg mesti saya lakukan dan siapa yg bisa bantu sy agar bisa psng pam. t,ksh. ida.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,253,867 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 336 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: