PLN. Paksa Hemat Atau “Menaikkan” Tarif? Tapi kalau begini lingkungan juga makin Hijau!

3 Maret, 2008 at 18:37 15 komentar

plnKita sebagai orang-orang yang peduli lingkungan pasti sudah terbiasa dengan hidup hemat energi, mematikan listrik, dsb. Sekarang PLN juga punya “program” hemat energi dengan cara memaksa pelanggan menurunkan konsumsi listriknya, tidak peduli gaya hidup yang ada. PLN bilang kita harus bisa berhemat sehingga mendapat insentif atau akan diberikan disinsentif untuk melanggar konsumsi “rata-rata” nasional.

Sekarang untuk kita yang tinggal di daerah yang berbeda-beda di seluruh Indonesia apakah bisa disamakan? Rata-rata nasional diambil dari mana? Apakah bisa dengan mudah membuat perhitungan sendiri? Untuk kita yang di kota besar, sudah pasti kita terkena disinsentif. Kawan saya yang memiliki rumah sederhana pun terkena disinsentif.

Tetapi, untuk lingkungan hidup, ini pasti jadi lebih baik 🙂 walaupun saya sendiri sebal.

Dibawah ini adalah tabel untuk perumahan. Cocokkan sendiri golongan tarif anda dari kwitansi PLN.

Golongan Tarif

Rata-Rata Nasional

Batas Maksimum

R1 – TR (s.d 450 VA)

75 kWn

60 kWh

R1 – TR (900 VA)

115 kWh

92 kWh

R1 – TR (1300 VA)

197 kWh

158 kWh

R1 – TR (2200 VA)

354 kWh

283 kWh

R2- TR (2201 – 6600 VA)

650 kWh

520 kWh

R3 – TR (6601 – 197.000 VA)

1767 kWh

1413.6 kWh

Berikut adalah contoh perhitungan yang diambil dari infokito.wordpress.com:

Formula Insentif
Ins = 20% x kWh ins x He

dimana
kWh ins = kWhRN – kWhPP
kWhRN : kWh pemakaian rata-rata nasional
kWhPP : kWh pemakian pelanggan
He : tarif tertinggi pada golongan pelangan maksimum

Formula Disinsentif
Dis = 1,6 x kWh dis x He
dimana
kWh dis = (kWhPP – 80% kWhRN)

Perhitungan insentif ini adalah 20% dari selisih pemakaian rata-rata nasional dengan pamakaian pelanggan dikalikan tarif listrik. Sedangkan formula perhitungan disinsentif adalah 1,6 dikali selisih pemakaian pelanggan dengan 80% rata-rata pemakaian nasional dikalikan tarif listrik.

Berikut contoh perhitungan insentif:
Misalnya pelanggan R1 (450 VA), dengan jumlah pemakaian listrik bulan Maret sebesar 50 kWh. Perhitungannya adalah 20% x (75 kWh – 50 kWh) x Rp530 = Rp2.650.
Nilai Rp2.650 ini adalah jumlah potongan (insentif) pelanggan tersebut. Rp530 adalah harga tarif dasar listrik untuk R1 yang paling mahal.
Jadi, jumlah yang harus dibayarkan pelanggan ini adalah (50 kWh x Rp530) – Rp2.650 = Rp26.500 – Rp2.650 = Rp23.850.

Berikut contoh perhitungan disinsentif:
Misalnya jumlah pemakaian pelanggan R1 (450 VA) sebesar 90 kWh. Perhitungan nilai disinsentifnya adalah 1,6 x (90 kWh – 60 kWh) x Rp530 = Rp25.440.
Jumlah yang harus dibayar pelanggan ini adalah (90 kWh x Rp530) + Rp25.440 = Rp47.700 + Rp25.440 = Rp73.140.

Jadi? Memang dengan pemaksaan ini kita diajak untuk berintrospeksi juga, apakah gaya hidup yang dijalankan selama ini memang boros. Seperti kata Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Purwono, “Kami memang memaksa pelanggan berhemat sebab pemakaian listrik sudah terlalu boros.”

Jadi semua ini harus dilihat dari sisi baiknya. Mungkin dengan berhemat dan bisa jadi mengurangi pembuatan Pembangkit Tenaga Listrik baru, atau bisa juga penghematan bahan bakar batu bara dan minyak yang dipakai oleh Pembangkit Tenaga Listrik maka pada akhirnya kebiasaan kita bisa berubah, polusi berkurang, dan akhirnya lingkungan semakin hijau!

Iklan

Entry filed under: Berita Lingkungan Lokal.

Paving Berumput. Alternatif lapangan parkir yang membantu mengurangi banjir dan polusi. Buku Panduan Efisiensi Energi di Hotel

15 Komentar Add your own

  • 1. Eka  |  3 Maret, 2008 pukul 19:15

    Sayangnya PLN sendri masih belum optimal mengurangi angka pencurian listrik oleh industri dan rumah orang2 (yang katanya berada).

  • 2. abah oryza  |  3 Maret, 2008 pukul 20:46

    kita terbiasa di paksa, tapi ini lebih baik, karena kita di beri pilihan.

  • 3. Soal Ulangan PLN « Catatan Kecil Seorang Guru  |  4 Maret, 2008 pukul 00:46

    […] 450 VA) , keluarga itu tidak dapat subsidi karena kelebihan dari beban maksimum yang 60 kWh menurut skema tarif yang berlaku di PLN sekarang. Beda kalau keluarga tersebut berlangganan dengan tarif  R1 – TR (900 VA), yang dapat […]

  • 4. t3guhbs  |  4 Maret, 2008 pukul 11:28

    Setuju mas, untuk itikad hemat energinya. Tapi dalam program ini, PLN memberikan dua pilihan buruk.
    1. Angka rata-rata konsumsi listrik nasional yang tak masuk akal. 90% pelanggan pasti takkan mampu mengatur konsumsi listrik di bawah batas maksimum. Itungan Mas Yahya sudah klop tuh.
    2. Sosialisasi yang terlalu pendek. Pelanggan sudah bertahun-tahun dininabobokan dengan listrik seolah tak terbatas. Apa bisa hanya dalam waktu 2 pekan sosialisasi (seperti keterangan PLN sendiri), bisa menghemat konsumsi listrik sampai 50%-80% dari biasanya?

    Untunglah, pusat cepat sadar untuk merevisinya.

  • 5. Hedwig™  |  4 Maret, 2008 pukul 15:33

    Rata-rata nasional itu rumusnya dari mana, apakah sama antara pengguna di Jabotabek dengan di Papua sana.
    Saya pikir, pelanggan PLN di Jabotabek bakalan lebih banyak yang akan terkena denda.

  • 6. Tobichan  |  4 Maret, 2008 pukul 20:35

    PLN terlalu gegabah, darimana mereka dapat perhitungan rata2 komsumtif yang rendah banget begitu. Tidak Masuk Akal.

    Lebih baik memakai voucer saja seperti pulsa.

    Dengan begitu kita diberi batas yang kita tentukan sendiri

  • 7. rumahkayubekas  |  5 Maret, 2008 pukul 07:53

    Penghematannya ok.
    Pukul- ratanya?
    Rupanya PLN harus menghitung- ulang lagi…

  • 8. igogreen  |  5 Maret, 2008 pukul 08:45

    Well well menurut aku sih,PLN kok pake zaman OrBa yah ada acara hukuman segala. Kalo menurut aku yang efektifnya sih cukup dengan diskon saja,Masyarakat tentunya akan tergiur bahkan berlomba-lomba untuk menurunkan konsumsi listrik mereka. Kalo ada hukumannya seperti denda itu namanya PLN mo cari duit setelah memberikan diskon. ^^ Well well kita lihat bagaimana kebijakan pemerintah kita saja nantinya.

    I Go Green
    Satu orang berkata ingin hijau adalah sebuah berkah bagi bumi ini

  • 9. realylife  |  5 Maret, 2008 pukul 15:49

    sebenarnya cuma ingin tarif yang murah dan pelayanan yang baik supaya ndak byar pet , itu saja

  • 10. Andi Gunawan  |  9 Maret, 2008 pukul 21:27

    Sistem disinsetif sangat memukul industri rumah, seperti konveksi, biaya produksi tinggi dan merugikan industri UKM, sementara pasar pertekstilan tidak kondusif gimana???

    Jika bumi ingin hijau, maka bangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan seperti tenaga air, angin, pasang laut, panas bumi dan matahari tidak menggunakan energi yang berasal dari fosil.

    Segitu dulu yaa,,, salam kenal, aku biasa nongkrong di : http://www.AyoBangkitIndonesiaku.wordpress.com

  • 11. woX stiLL bLogGing » tarif PLN mencekik mahasiswa  |  10 Maret, 2008 pukul 11:45

    […] hemat tapi bila melebihi pemakaian nasional maka kita kena tambahan biaya. Dengan cara seperti ini PLN memaksa kita untuk hemat. Tapi yang menjadi patokan adalah pemakaian rata2 nasional. Nasional? dimana om […]

  • 12. Monang  |  4 Mei, 2008 pukul 15:02

    Niat PLN sudah baik dan tak mungkin ada solusi atau rumusan yang dapat memuaskan atau diterima semua orang. Apapun ukuran yang diambil pasti ada saja tanggapan terhadapan kebijakan itu. Memang perubahan mahal harganya tapi hanya dengan perubahan semua bisa diperbaiki.

    Contoh : (Yakin ini juga pasti diprotes). Kalo plg di Jabotabek lebih beresiko kena disinsentif kaena pemakaian, kasian dong juga saudara kita di Papua yang sipasok dengan infratsruktur yang lebih rendah dr Jakarta harus bayar sama per kWhnya kalo gak ada insentif.

    Atau, gimana ya kalo harga dibuat regional ?. Menurut aku…listrik memang mahal dan kita sudah harus berhijau. Walau aku juga sering sebel kalo listrik suka mati dan informasinya kurang responsif.

  • 13. Tony  |  1 April, 2009 pukul 19:18

    Mengecewakan, Tarif listrik Indonesia lebih mahal dari Hongkong, saya baru pulang dr rumah saudara saya yang tinggal di kawasan elit Hongkong.

    Famili kami membayar HKD 500 / 3 bulan, artinya HK 165 atau dirupiahkan menjadi Rp.250.000,-/ bulan, Terdapat 4 ac dalam apartment tersebut, dinyalakan dari pagi hingga pagi lagi.

    Ini hal yg sangat ironi untuk PLN, tarif dah mahal, sering mati lampu, yg paling parah ngakunya rugi terus…

    ADA APA DENGAN PLN ???

  • 14. bendong  |  17 Juni, 2010 pukul 14:32

    rata2 nasional turun lagi…
    dari 80% turun ke 40%

    gak lama kemudian pln mau naikin TDL 10%

    mau jadi apa kita2 ini…
    padahal udah berusaha hemat…

    malah sekarang makin dibebani…

    masa jabatan ke-2 SBY bener2 bikin gw… stress…
    naiknya banyak amat…

  • 15. bloggerbiasa  |  21 September, 2011 pukul 11:06

    Gaya hidup hemat adalah keharusan yang tak bisa ditawar tawar. Saat kita berhemat maka kehidupan berjalan menjadi lebih baik. Salam hemat energi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

Archives

RSS Bisnishijau.Org

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye Hijau











Statistik Pengunjung

  • 2,247,510 Pengunjung

Statistik

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 335 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: