Posts filed under ‘Manifesto Hijau’
Olahraga sehat yang ramah lingkungan
Olahraga sedang tren. Bisa dibilang keren kalau fitness di mal atau hotel-hotel berbintang. Tapi semakin lama kita semakin terbiasa untuk pergi ke satu tempat, muter-muter cari tempat parkir dengan kecepatan rendah (yang ternyata terbukti sangat boros) lalu lari di mesin treadmill yang menggunakan mesin 2 tenaga kuda. Lingkungan dan kehidupan sosial membuat kita selalu mengkonsumsi terus menerus.
Saya bukan menentang olahraga. Tetapi memang olahraga itu mengkonsumsi energi. Kalau kita ambil contoh mesin treadmill lagi, konsumsi mesin treadmill sebesar 2 tenaga kuda itu sama dengan 1500 Watt listrik (1 Tenaga kuda = 750 Watt). (lebih…)
Menanam Sepeda, Menghijaukan Jakarta
Disadur dari milis b2w-Indonesia
Posted by:”Si Bule” novizal_sg
Tue May 1, 2007 7:33 pm (PST)
Beruntung kata “hijau” dalam bahasa Indonesia ada tiga arti: (1)
warnanya hijau; (2) ramah lingkungan; (3) banyak uang!! (perhatian:
arti ‘hijau’ jauh berbeda dengan kamus besar bahasa Indonesia punya
Pak WJS Poerwodarminto)
Nah saya mau sedikit memoles opini atas arti yang kedua dan ketiga
yang dipadu-padankan dengan alat transportasi sepeda dan sedikit
gelitik untuk para pejabat untuk mengusahakan jalur sepeda.
Lebih tegasnya, apa sih yang bisa diperoleh buat para penghuni
jabodetabek, para pe-bisnis dan juga para pejabat dalam memajukan
persepedaan di tanah air – khususnya membuat jalur sepeda di Jakarta. (lebih…)
Dilema penghematan energi…
Kita sudah mungkin dengan setiap hari tentang penghematan ini dan itu. Mulai dari kampanye PLN “hemat energi hemat biaya” sampai kampanye internasional juga. Dari semua itu memang sedikit demi sedikit akan banyak orang yang sadar akan perlunya penghematan energi. Mereka pun mulai dari yang paling mudah, dari mematikan lampu saat tidak dipakai, tidak memakai AC terlalu lama, dll. Perangkat serta alat-alat rumah tangga pun semakin canggih dan hemat energi.
Masalahnya adalah taraf kehidupan kita yang meningkat sesuai dengan peningkatan pemasukan uang. Mungkin kita sekarang mematikan lampu sewaktu tidak perlu ataupun sudah membeli barang yang hemat energi. Tetapi kita juga sekarang memakai minimal 1 buah hp, lalu juga memiliki laptop dan iPod yang perlu dicharge. 5-10 tahun lalu itu semua mungkin barang langka. AC sekarang juga semakin hemat energi dan murah. Karena itu kita juga malah memasang AC dimana-mana, ditempat yang jarang dipakai juga. Akhirnya pengeluaran malah lebih banyak. Jadi taraf hidup yang semakin tinggi akan memerluakan energi yang lebih tinggi lagi.
Dari semua itu, PLN harus selalu membuat pembangkit baru seiring dengan pertumbuhan penduduk karena kekurangan energi. Tetapi tender pembuatan pembangkit itu kebanyakan membuat perusahaan dengan proposal harga terendah menang. Padahal proposal yang paling murah itu bisa jadi yang paling kotor.
Dari semua ini, kita harus menunggu inovasi mutakhir yang dapat membantu lingkungan. Teknologi pembangkit batu bara yang bersih sudah dimulai walaupun masih terlalu mahal dan dalam tahap pengembangan. Teknologi pembersihan CO2 hasil dari pembakaran batubara juga sudah dimulai. Pertumbuhan pemakaian alat pembangkit dengan tenaga surya serta angin serta tenaga panas bumi pun mulai marak di dunia barat. Inilah yang akan membantu kita mengurangi pemanasan global dengan cepat. Tetapi memang semua ini adalah solusi mahal. Banyak dari alat tersebut belum terjangkau untuk kisaran populasi di Indonesia, ataupun cost-benefit yang belum seimbang dibandingkan dengan di dunia barat.
Dunia bisnis pun selalu berdilema dengan penghematan energi serta cost-benefit yang dikeluarkan, serta bila produk harus dirubah mulai dari bahan serta formulanya untuk memenuhi requirement dari dunia untuk mencegah pemanasan global. Apalagi untuk perusahaan menggunakan batubara adalah cara yang termurah saat ini untuk menghasilkan energi. hanya sepersepuluh dari BBM loh.
Jadi bagaimana dengan konservasi energi kita? Kita harus tetap menghemat! itu pasti. Tetapi kita juga mengharapkan kontribusi dari saudara-saudara kita yang lebih berkecukupan untuk lebih ikut serta dengan memulai penggunaan teknologi energi alternatif seperti tenaga surya dan angin yang mudah dipakai dirumah. Lebih dari itu, kita juga mengharapkan pebisnis untuk juga memikirkan cara untuk ikut membantu lingkungan kita.
Gengsi naik sepeda? Coba pikir sekali lagi.
Akhir pekan lalu saya berkesempatan pergi ke Kepulauan Riau, yaitu pulau Batam, Bintan dan Singkep. Perjalanan dari Jakarta harus lewat Batam lalu naik ferry ke Tanjung Pinang selama hampir 1.5 jam. Luas kota Tanjung Pinang adalah 139.5 Km2 dengan jumlah penduduk 176 ribu orang. Luas itupun sudah termasuk jalan-jalan sepi diluar pusat kota. Bila kita berbicara pusat kota dimana kebanyakan orang tinggal, maka kemana-mana bisa ditempuh 5-10 menit berjalan kaki atau berkendara. Yang sangat terasa disana adalah banyaknya mobil dan terutama motor. Hampir semua orang menggunakan motor bebek walaupun kemana-mana cukup terjangkau. Saya pun berkesempatan untuk pergi ke kota Dabo di pulau Singkep dengan penduduk hanya 39 ribu orang. Disini pemandangan pun sama dengan maraknya sepeda motor dimana-mana.
Mungkin hal ini terjadi diseluruh Indonesia, dimana tren untuk naik motor itu adalah gengsi tersendiri. Tapi apa betul akan lebih baik? Untuk kota yang cukup kecil bersepeda dan berjalan kaki adalah pilihan terbaik karena terjangkau dan memudahkan orang untuk kemana-mana, apalagi kota kecil itu tidak sepolusi kota Jakarta atau kota besar lainnya. Di kota besar itupun sudah mulai ada gerakan Bike To Work, dimana orang memakai sepeda untuk ke kantor. Mengapa tidak di kota kecil yang lain yang lebih masuk akal untuk memakai sepeda. Di Amsterdam, 40% orang menggunakan sepeda. Di Beijing, China, saja ada 4 juta sepeda dengan total sepeda seluruh china sekitar 500 juta sepeda. Di Jepang juga ada lebih dari 80 juta sepeda yang mengakomodasi 17% komuter yang lalu naik subway. Di New York, 21% orang berjalan kaki atau naik sepeda. List ini terus bertambah karena setiap kota akan ada inisiatif dari pemerintahnya (Kecuali Indonesia tentunya)
Mau tahu perbandingannya dengan memakai mobil? (lebih…)
Memberi ASI = Mencintai bayi dan lingkungan anda
Air susu ibu (ASI) sudah komplit dengan sistem produksi dan tempat simpan jadi tidak memerlukan packaging khusus dan juga kulkas untuk menyimpan. Oleh karena itu, ASI sungguh ramah lingkungan. Kita tidak perlu membuang bekas kaleng, kardus, dan plastik bekas susu formula.
Dari sisi produksi pun banyak sekali hal yang dapat dihemat, mulai dari peternakan sapi yang memerlukan makanan dan kotoran yang menghasilkan methane, salah satu gas yang 10x lebih buruk dari CO2 untuk atmosfir kita, sampai ke pabrik produksi, dengan energi yang diperlukan, baik mesin maupun manusia, dengan mobil yang dipakai untuk jalan ke pabrik itu.
Di rumah pun kita akan menghemat penggunaan kulkas dan juga botol susu yang selalu harus kita cuci.
Jadi bukan saja ASI itu sumber nutrisi yang terbaik untuk bayi, tapi juga ramah lingkungan. Oleh karena itu, saya sangat mendukung program ASI Eksklusif untuk bayi minimal hingga 6 bulan setelah kelahiran.
Kebocoran pipa perusahaan air merugikan semua orang

Perusahaan air di Jakarta kehilangan 50% dari air yang disalurkan ke pelanggan karena perbuatan illegal. Ada bermacam-macam permasalahan untuk perbuatan illegal tersebut. Dari pembuatan jaringan pipa ke daerah/rumah secara illegal, pembuatan pipa illegal dan meter air illegal, sampai pada pelanggan yang memang enggan membayar tetapi harus tetap disupply air seperti para pejabat politik, militer sampai organisasi massa yang dapat menteror kembali perusahaan air tersebut. Bila orang secara illegal menyambung pipa mereka ke pipa jaringan, maka kebocoran pun dapat terjadi. Dari kebocoran itu, kita dapat membayangkan banyaknya partikel kotor, air kotor, bakteri dan lainnya masuk ke jaringan pipa, yang akhirnya air ke pelanggan pun tidak dengan kualitas maksimal, malah berbau, berwarna, dll. Kita hanya dapat menyalahkan perusahaan air saja.
Akibat dari semua itu adalah, perusahaan air di Jakarta, yaitu Thames PAM Jaya dan Palyja tidak pernah mendapat keuntungan apapun, yang akibatnya sangat merugikan pelanggan lain yang memang membayar secara jujur. Akibat kerugian perusahaan air, mereka tidak mempunyai anggaran yang cukup untuk memperbaiki atau memperluas jaringan pipa mereka, merawat waste water treatment plant secara optimal, mendapatkan teknologi yang terbaru untuk menambah efisiensi dan produktivitas, dan juga memperbaiki hubungan dengan pelanggan yang ada.
Kita tidak dapat selalu meminta perusahaan air untuk memberikan yang terbaik karena mereka pun terjepit di tengah. Di satu pihak harus memberi pelayanan sebesar-besarnya, tapi mereka pun harus untung. Sebenarnya Pemda dan semua departemen terkait harus ikut mendukung karena pada saat ini, banyak orang yang dapat memiliki PBB/sertifikat tanah/bangunan di daerah yang sebenarnya illegal seperti jalur rel kereta ganda, malah tanah pemerintah pun diperjual-belikan secara illegal. Nah, mereka yang sudah salah, malah lebih ngotot untuk mendapatkan servis air dan listrik. Tidakkah itu merugikan pelanggan lainnya?
Saya mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk ikut membantu dan menyelesaikan permasalahan rumah illegal dari semua tempat dan untuk menghijaukan kembali semua lahan tersebut. Dengan itu, pelanggan air pun dapat menikmati kualitas air dan servis yang baik.
Orang Indonesia Kurus Berkat Ethanol dan Bio-diesel
Saya telah menulis sebelumnya dengan judul Bio-diesel: solusi atau problem bahwa dengan adanya perluasan perkebunan kepala sawit karena kebutuhan bio-diesel akan menjadi problem lanjutan karena adanya masalah-masalah baru seperti naiknya harga makanan, dll.
Sekarang ada masalah baru, yaitu perluasan perkebunan tebu, singkong dan jagung untuk membuat ethanol. Baru-baru ini Indonesia juga baru saja membuat perjanjian dengan Brazil yang akan membantu Indonesia mengembangkan industri tebu untuk Ethanol. Ethanol telah dibuktikan bahwa effisiensi energi Ethanol walaupun baik untuk pemakaiannya, sangat tidak effisien dalam produksinya, seperti penggunaan lahan, pupuk, traktor, manusia, dll.
Indonesia masih sangat bergantung pada import untuk Jagung yang kebanyakan dipakai untuk pembuatan pakan ternak dalam jumlah besar. Di Amerika sendiri, peternak disana sudah merasakan akibat dari tingginya harga jagung dengan jatuhnya produksi daging sapi, babi dan ayam. Petani rebutan dengan industri Ethanol untuk supply jagung. Inflasi daging di Amerika yang biasanya hanya 2 persen naik menjadi 3.5 persen. Meksiko sedang merasakan inflasi harga Tortila, yang merupakan makanan sehari-hari disana akibat tingginya harga jagung. Barang lain yang sama pentingnya adalah kedelai, dimana Brazil telah sukses membuat Ethanol dari kedelai untuk penggunaan di mobil. IMF mengatakan bahwa inflasi makanan naik 10 persen di seluruh dunia di tahun 2006 karena naiknya harga jagung, gandum dan kedelai. Itu semua adalah komoditi yang kita makan sehari-hari dan sulit untuk diproduksi di dalam negeri. Gandum yang kita impor dari Australia dan Amerika adalah bahan dasar untuk Indomie dan mie lainnya. Kedelai yang kita impor dari berbagai belahan dunia adalah bahan dasar tahu, tempe hingga oncom. Apakah kita mau menjadi kelaparan karena negara lain berlomba untuk membuat ethanol dari bahan tersebut?
Bila hal ini terjadi di Indonesia, kita akan mendapatkan krisis makanan yang cukup menakutkan karena ayam merupakan sumber protein utama untuk rakyat yang cukup terjangkau. Bila harga jagung impor naik, maka harga pakan akan naik, menaikkan harga ayam potong dan telur. Belum lagi barang-barang komoditi lainnya seperti gula yang juga akan naik akibat produksinya berebut dengan produsen ethanol.
Kita harus memiliki solusi untuk dalam negeri kita. Kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor seperti gandum dan kedelai yang sulit untuk diproduksi lokal. Kita harus mengembangkan komoditi lokal yang dapat menggantikan seperti ketela/singkong, dll. Hal ini adalah masalah nasional yang harus kita pikirkan bersama karena bila kita terlambat, maka musibah tidak dapat dicegah. Bila Amerika ingin mengurangi ketergantungan minyak dari Timur Tengah, maka kita harus mengurangi ketergantungan kita pada komoditi impor.
Biodiesel: Solusi atau Problem?

Pemerintah sedang gembar-gembor untuk memakai biodiesel dimana diharapkan dengan solusi ini maka penggunaan solar dapat dikurangi karena adanya campuran dengan solar yang merupakan hasil proses dari minyak kepala sawit, jagung, kedelai, jarak, tebu, singkong dll.
Manusia secara bergenerasi telah bercocok tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sekarang pun kita masih dapat melihat adanya kekurangan pangan dari negara kita. Kita masih belum bisa berswasembada pangan. Dengan adanya pertumbuhan dari kedua pihak antara populasi manusia dan mobil, kalau kita akan menggunakan bahan makanan yang kira perlukan itu untuk menjadi energi, apakah kita ingin memberi makan untuk orang atau mobil?
Tidak akan ada lahan, air ataupun tanah produktif yang cukup untuk dapat menggantikan seluruh kebutuhan energi kita. Produksi dari biodiesel itu sendiri pun menggunakan banyak sekali lahan dan energi. Produksi lahan tanaman seperti kelapa sawit atau jarak akan memerlukan pupuk yang dibuat dari hasil gas alam, pestisida yang juga merupakan turunan dari minyak, input dari energi lainnya seperti bahan bakar untuk traktor, truk pengangkut, dan pabrik penyulingannya. Selain itu, lahan tersebut juga akan memerlukan air dan harus mengurangi daya kesuburan tanah.
Bila kita lihat energi yang digunakan, maka biodiesel akan memakai energi yang lebih banyak dalam tahap produksinya dibandingkan dengan minyak bumi biasa, dari sumur explorasi sampai dipakai di mobil.
Dengan adanya kompetisi antara kebutuhan makan manusia dan energi, maka dengan menipisnya supply dan tingginya demand akan menaikkan harga komoditi tersebut sehingga pada akhir dari rantai tersebut maka produk akhir yang dijual kepada pelanggan pun akan lebih mahal. Contohnya, bila harga minyak kelapa sawit naik, karena minyak kelapa sawit adalah bahan dasar untuk pembuatan dari es krim, biskuit, mentega, minyak goreng hingga sabun dan shampoo, maka dapat dibayangkan konsekuensi naiknya harga CPO kepada seluruh inflasi dan ekonomi kita.
Para pengusaha pun dengan adanya kenaikan harga akan menjadi insentif mereka untuk menanam lebih banyak lagi. Dan bila hutan heterogen kita yang penuh dengan tanaman berguna serta binatang yang bergantung pada ekosistem tersebut, akan musnah dengan adanya hutan homogen dari perkebunan besar itu. Akhirnya adalah musnahnya spesies tanaman dan binatang yang penting untuk keseimbangan alam kita.
Solusi yang paling baik tetap untuk mencari solusi terbaik energi alternatif yang terbarukan dari air/ombak, angin dan sinar matahari.




















Komentar Terbaru